Beda dengan Petani Biasa, Ini Petani Milenial yang Tengah Digencarkan di Kulonprogo

Ilustrasi petani di desa - JIBI
18 Oktober 2019 17:57 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo mencatat jumlah petani di Kabupaten Kulonprogo saat ini sebanyak 139.785 orang. Namun tidak semuanya aktif. Kebanyakan telah berhenti karena faktor usia.

"Rata-rata usianya sudah menyentuh angka 50 tahun ke atas, sehingga banyak yang kemudian berhenti," ungkap Kepala Disperpangan Kulonprogo, Aris Nugraha, Jumat (18/10/2019).

Kondisi itu menimbulkan keprihatinan. Sebab, petani dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Namun di sisi lain, tak banyak yang berminat untuk menggeluti pekerjaan tersebut. Terutama para generasi muda, yang kini cendrung memilih bekerja di sektor lain di luar pertanian.

Untuk mengantisipasi punahnya profesi petani, Disperpangan Kulonprogo sedang menggencarkan program pelatihan dan pembinaan terkait pertanian dengan menyasar generasi muda. Program bernama Petani Milenial itu diikuti oleh peserta dengan syarat usia 19-39 tahun.

Program tersebut diluncurkan oleh Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian pada pertengahan tahun ini. Dinas pertanian di seluruh Indonesia tak terkecuali Kulonprogo kemudian menerapkan program itu di daerahnya masing-masing dengan tujuan meregenerasi petani serta mendukung pemenuhan kebutuhan pangan lokal.

Aris mengatakan untuk wilayah Kulonprogo program itu telah diikuti 24 peserta. Mereka mendapat pelatihan selama dua hari di kompleks Disperpangan Kulonprogo, pada September lalu. Pelatihan ini tidak hanya sebatas untuk peserta yang ingin terjun langsung ke lapangan sebagai petani, tapi juga sektor-sektor pendukung seperti pengolahah hasil pertanian, alat-alat pertanian dan sebagainya.

"Penerapan program ini bekerja sama dengan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang. Para petani muda diberi pemahaman bahwa petani bukanlah pekerjaan rendahan. Dari petani, pundi-pundi rupiah yang dihasilkan tetaplah besar, tergantung bagaimana petani itu mengelola usahanya," jelasnya.

Eka Prita Isnuari salah satu peserta program Petani Milenial mengatakan banyak hal yang ia peroleh setelah mengikuti program tersebut. Antara lain dia jadi tau tata cara pemanfaatan sumber daya lokal dalam pemberdayaan masyarakat, budidaya petani modern, penanganan hama penyakit dan pestisida organik, kewirausahaan, hingga manajemen pemasaran pertanian, mulai dari cara manual sampai pemasaran online.

"Setelah itu juga dibentuk kelompok usaha bersama yang terdiri dari empat orang dan akan mendapat dana fasilitasi pembelajaran kelompok tani sebesar Rp4,4 juta dipotong pajak per kelompok," ujar Ketua Kelompok Wanita Tani Anggrek Asri, Dusun Menggermalang, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh tersebut.

Prita berharap ke depan banyak anak-anak muda yang mulai gemar bertani. Tidak hanya petani seperti saat ini, tapi petani modern yang mampu memanfaatkan perkembangan teknologi. Dia meyakini lewat bertani, seorang dapat meraih kesuksesan.

"Dan saya sudah merasakannya, walau cuma menanam di lahan sempit pun bisa panen untuk konsumsi sendiri sehingga tidak perlu beli ke pasar, uang yang digunakan untuk beli sayur bisa kita alokasikan untuk kebutuhan yang lain, kalau kita menanamnya banyak pasti hasilnya bisa untuk mencukupi kebutuhan," ucapnya.