Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Aris Eko Nugroho, membuka Biennale Jogja XV Equator #5 di JNM, Minggu (20/10)
Harianjogja.com, JOGJA—Biennale Jogja XV Equator #5 2019 resmi dibuka di Jogja Nasional Museum (JNM) pada Minggu (20/10) sore. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, salah satu ekshibisi seni terbesar di Jogja yang mengusung tema Do We Live in The Same Playground? ini digelar di sejumlah lokasi, yakni JNM, TBY, Ketandan dan PKKH UGM.
Direktur Yayasan Biennale, Alia Swastika, menjelaskan tema ini dipilih untuk merangkum pembacaan tim kurator dan seniman yang terlibat atas segelintir persoalan pinggiran yang terjadi di kawasan Asia Tenggara. “Terutama masalah identitas, gender, ras, agama, konflik sosial-politik, perburuhan, lingkungan, atau praktek kesenian,” ujarnya.
Playground merupakan alegori bagi ruang hidup dan berekspresi yang kerap tampak menyenangkan, tapi punya berlapis persoalan di baliknya. Para seniman tidak hanya dituntut memahami persoalan, tapi juga menentukan posisi dirinya terhadap persoalan itu.
Dalam Biennale XV ini, tercatat sebanyak 52 seniman yang tersebar dari 12 negara di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Laos, Kamboja, Myanmar, Vietnam dan Filipina, ditambah Timor Leste, Hong Kong dan Taiwan turut berpartisipasi.
Pembukaan diisi oleh beberapa penampilan diantaranya kelompok Icirimih Nitirimin yang berisi anak-anak yang bernyanyi dan menari dengan lincah mengenakan busana jawa. Lalu ditutup dengan band Beast Kids yang juga beranggotakan anak-anak dan membawa beberapa lagu seperti Another Brick in The Wall dari Pink Floyd serta beberapa lagu ciptaan sendiri.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY Aris Eko Nugroho, mengatakan event ini merupakan wadah bagi inspirasi seniman dalam menafsirkan persoalan pinggiran. “Kali ini Biennale menampilkan generasi baru yang meliputi seniman, penulis, intelektual, dan penikmat seni rupa milenial,” ujarnya.
Ia berharap Biennale XV dapat menjadi sarana edukasi seni dan budaya, media berbagi informasi dan diskusi antar seniman, masyarakat dan sarana rekreasi yang khas Jogja. "Jogja sebagai cagar budaya sekaligus rumah bagi seni dan sastra," ungkapnya.
Salah satu seniman yang berpartisipasi, Moelyono dari Tulungagung. Ia menampilkan karya instalasi berjudul Pembangunan Taman Monumen Marsinah. Di dalamnya berisi monumen marsinah yang dilengkapi pemutaran video. Monumen itu dikelilingi dinding dari seng yang ditempeli bermacam poster marsinah.
Ia mengatakan karya ini sebelumnya pernah akan dipamerkan di Surabaya 20 tahun silam, tapi gagal karena dibubarkan aparat. Dengan oerubahan interpretasi dan kemasan, karya ini sukses dipamerkan di banyak tempat.
“Marsinah sudah meninggal lebih dari dua dekade lalu, tapi semangatnya abadi. Dia adalah simbol perjuangan buruh. Berbagai kebijakan yang menguntungkan buruh saat ini tak lepas dari andil Marsinah,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Memasuki usia ke-270, Kota Jogja didorong terus memodernisasi kota dengan tetap berpijak pada budaya, sejarah, lingkungan, transportasi publik, dan kawasan rend
Partisipasi Pilur Serentak 2026 Bantul mencapai 73,7%. DPMK menyiapkan evaluasi dan sosialisasi untuk meningkatkan partisipasi pada 2028.
Menko PMK meminta Menpora menghitung tambahan bonus atlet peraih medali emas Asian Games dan Olimpiade serta menyiapkan dana pensiun.
Markus Madjar belum mendapat menit bermain bersama PSS Sleman. Ia fokus meningkatkan fisik dan belajar menghadapi intensitas Liga 1.
Pre-order iPhone 18 Pro dan Pro Max di iBox serta Digimap sudah dibuka. Simak link resmi dan cara pemesanannya di Indonesia.