Medan Terjal, Desa Kekeringan di Sleman Ini Tak Bisa Dijangkau Truk Tangki Air

Ilustrasi. - Harian Jogja/Beny Prasetya
29 Oktober 2019 06:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- BPBD Kabupaten Sleman tengah mengkaji usulan rekomendasi status darurat bencana kekeringan bagi Desa Gayamharjo. Penilaian nantinya didasarkan hasil assesment tim.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan mengatakan desa saat ini bisa mengeluarkan belanja tak terduga (BTT) dengan catatan mengantongi rekomendasi BPBD bahwa wilayahnya terdampak bencana.

Makwan mengatakan, upaya itu sesuai dengan ketentuan UU No.6/2014 tentang Desa. Diantaranya, mengamanahkan pemerintah desa untuk mengalokasikan BTT dalam hal penanganan kondisi darurat.

Menindaklanjuti aturan perundangan itu, lanjut Makwan, Pemkab Sleman kemudian menetapkan Peraturan Bupati No.31/2018.

"Di dalam ketentuan perbup itu menyebutkan bahwa pencairan BTT dapat dilakukan sepanjang telah mendapat rekomendasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)," ujar Makwan, Senin (281/10).

Atas rekomendasi status dari BPBD nantinya diharapkan dapat mempercepat penanganan darurat kekeringan di wilayah Gayamharjo.

Warga, lanjut Makwan, kesulitan membeli air bersih karena mobil tangki milik operator swasta tidak dapat menjangkau wilayah mereka akibat kendala letak geografis.

Permasalahan semakin kompleks karena sumur bor di Dusun Grogol, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, sementara ditutup. Adapun, sumur itu merupakan sumber air bersih bagi penduduk Desa Gayamharjo.

Sebanyak 849 KK yang bermukim di Gayamharjo bergantung pada bantuan dropping dari Pemkab Sleman untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari, sejak operasional sumur bor dihentikan pada awal Oktober ini.

"Tiap hari kami lakukan dropping 50 tangki air bersih ke Prambanan. Tidak hanya ke Gayamharjo, namun juga Desa Wukirharjo dan Sumberharjo," tutup Makwan.