Investasi di Gunungkidul Serap 10.738 Orang Tenaga Kerja
Investasi di Gunungkidul semester pertama 2026 mencapai Rp487,6 miliar dan menyerap 10.738 tenaga kerja, didominasi PMDN dan PMA.
Ilustrasi sampah. /Harian Jogja-Uli Febriarni
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Wukirsari di Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari, dalam kondisi kritis dan mendesak untuk diperluas. Pasalnya, kapasitas pembuangan sampah di lokasi tersebut sudah melebihi batas penampungan maksimal dan diprediksi hanya sanggup bertahan hingga awal tahun depan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, Agus Priyanto, mengatakan kajian terkait dengan daya tampung TPAS Wukirsari sudah dilakukan sejak lama. Diprediksi kapasitas penampungan hanya sanggup bertahan hingga akhir 2020. Meski demikian, lanjut dia, kajian tersebut sedikit meleset karena melihat volume sampah yang masuk.
Setiap harinya tidak kurang dari 365 ton sampah dibuang ke TPAS Wukirsari. Intensitas pembuangan ini pun berdampak terhadap daya tampung karena sudah mendekati ambang batas maksimal. “Prediksi terbaru hanya sanggup bertahan hingga awal tahun depan atau lebih cepat dari perkiraan awal,” kata Agus kepada wartawan, Selasa (11/5/2019).
Menurut dia, dengan kondisi ini TPAS Wukirsari butuh perluasan secepatnya. Untuk lahan tidak ada masalah karena masih memiliki ruang seluas lima hektare yang belum difungsikan. “Saat dibangun memiliki lahan sembilan hektare, tapi baru dimanfaatkan empat hektare. Jadi lahan TPAS Wukirsari masih bisa diperluas lagi sehingga usia bisa lebih panjang,” katanya.
Mantan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Pemkab Gunungkidul ini mengatakan untuk perluasan jajarannya sudah berkomunikasi dengan instansi lain di lingkup Pemkab Gunungkidul. Diharapkan perluasan bisa segera dilakukan sehingga sampah tidak menjadi masalah di Bumi Handayani. “Sebenarnya ada solusi dengan mengurangi residu sampah, tapi hal ini sulit dilakukan karena tidak ada proses pemilahan sehingga semua jenis sampah langsung dibuang ke TPAS,” katanya.
Menurut dia, hal inilah yang membuat daya tampung TPAS Wukirsari cepat penuh karena kesadaran masyarakat mengelola sampah belum berjalan dengan baik. “Coba kalau yang dibuang hanya residu yang benar-benar tidak bisa diproses, pasti volume sampah yang dibuang bisa jauh berkurang. Tapi faktanya, proses pemilahan sampah belum optimal,” ujarnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunungkidul, Sri Suhartanto, mengatakan jajarannya sudah mendapatkan informasi terkait dengan daya tampung TPAS Wukirsari yang memasuki fase kritis. Oleh karena itu, untuk menambah daya tampung akan dilakukan perluasan. “Sudah ada pembicaraan untuk penambahan area luasan sehingga bisa menambah daya tampung,” katanya.
Untuk perluasan Sri Suhartanto mengaku telah berkoordinasi dengan Satuan Kerja Balai Prasarana Wilayah DIY. “Mudah-mudahan disetujui sehingga dapat fasilitas untuk perluasan TPAS Wukirsari,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Investasi di Gunungkidul semester pertama 2026 mencapai Rp487,6 miliar dan menyerap 10.738 tenaga kerja, didominasi PMDN dan PMA.
IHSG ditutup melemah 0,12% ke level 6.343,71. Di tengah koreksi bursa, saham sektor energi dipimpin CUAN, DSSA, dan PTRO justru menguat.
Menperin menyebut insentif kendaraan listrik akan diprioritaskan bagi produk bernilai tambah tinggi dan program mobil serta motor listrik nasional.
Motorola Razr Fold resmi hadir di Indonesia dan Jogja. HP lipat ini dibekali Snapdragon 8 Gen 5, baterai 6.000 mAh, serta kamera DXOMARK Gold Label.
Disnakertrans DIY mencatat 584 pekerja terdampak PHK hingga akhir Mei 2026. Data disebut masih dinamis dan menjadi dasar pemetaan sektor rentan.
CKG 2026 mendeteksi 1 juta kasus hipertensi baru dan 188 ribu diabetes baru. Kemenkes mengimbau masyarakat rutin cek kesehatan setiap tahun.