Gunungkidul Sulit Terapkan Konsep Wisata Halal

Sejumlah nelayan telah menaikkan gunungan untuk kemudian dilarung di Pantai Baron, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Gununungkidul, Senin (8/10/2018). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
05 November 2019 06:17 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Kabid Pengembangan Destinasi Wisata, Dinas Pariwisata Gunungkidul, Supartono menuturkan konsep wisata halal yang ditawarkan Kementerian Pariwisata sudah ada sejak lama, tetapi Kabupaten Gunungkidul belum bisa menerapkan wacana tersebut.

Konsep tersebut, kata dia, salah satunya terdapat pemisahan tempat berwisata antara wanita dan pria, baik sarana prasarana hingga lokasi.

"Kami masih sulit untuk memisahkan antara wisatawan laki-laki dan perempuan, karena sarana prasarana kita belum menunjang dan memadai," kata Supartono kepada Harianjogja.com, Senin (4/11/2019).

Ia menjelaskan selama ini wisata di Gunungkidul campur antara laki-laki dan perempuan. Pihaknya akan terus mengkaji lokasi mana dan seperti apa nantinya wacana Kemenpar jika diterapkan di Gunungkidul.

Selain itu, tawaran Kemenpar juga menyasar pada penyediaan makanan halal dalam artian makanan yang disajikan di tempat-tempat wisata bisa dikonsumsi oleh masyarakat muslim.

"Itu semua [konsep Kemenpar] masih akan terus kita kaji lagi, kira-kira dimana sih yang cocok untuk kita terapkan seperti itu," ujarnya.

Sebab, Ia menjelaskan saat wisata halal tersebut sudah diterapkan, tak hanya fasilitas saja yang harus mumpuni, tetapi para wisatawan yang sedang beriwisata tanpa kuatir apakah makanan yang dikonsumsi halal atau tidak menyalahi aturan hingga tak kuatir melakukan kegiatan yang bertentangan dilokasi wisata.

Ia mengungkapkan walaupun wisata halal belum bisa diterapkan di Bumi Handayani ini, tetapi fasilitas-fasilitas standar wisata halal sudah lama diterapkan di spot-spot lokasi wisata. Mulai sarana prasarana seperti masjid, musholla, MCK dan lainnya.

"Terutama di lokasi-lokasi yang ramai kunjungannya apalagi penyediaan peribadatan muslim," ujarnya.

Sehingga, dengan fasilitas yang sudah mumpuni dan representatif wisata halal, kata dia, wisatawan mancanegara yang berasal negara-negara muslim tak pelu risau untuk berwisata dan menikmati alam wisata yang ada di Kabupaten Gunungkidul.

"Kami memang saat ini masih dalam pembinaan kepada para pelaku wisata untuk menjual produk-produk halal," kata dia.

Ia berharap saat konsep wisata halal yang diwacanakan tersebut sudah bisa terealisasi, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Gunungkidul di bidang pariwisata bisa meningkat.

Senada dengan Supartono, Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, Antonius Hary Sukmono mengungkapkan pemerintah sudah lama melirik branding konsep wisata halal di Gunungkidul. Ia menuturkan perlu kajian dari para pakar pariwisata guna menemukan konsep terbaik yang harus diputuskan untuk menerapkannya di Gunungkidul.

Sebab, kata dia, konsep wisata halal tidak hanya terkait penyediaan fasilitas ibadah dan makanan halal, tetapi banyak faktor pendukung yang perlu didiskusikan bersama guna mendapatkan konsep yang baik.

"Ya itulah belum kami dapatkan konsepnya seperti apa, langkah seperti apa, itu belum kita putuskan. Kita perlu melakukan pengkajian yang menyeluruh," kata dia.