Satu Desa Satu Perawat Efektif Tangani Masalah Kesehatan

Kegiatan Angkat Sumpah dan Pelantikan Ners Angkatan XI Fakultas Ilmu Kesehatan Unriyo, digelar di salah satu hotel di Kota Jogja, Selasa (12/11/2019). - Harian Jogja/Sunartono.
13 November 2019 01:57 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Masalah kesehatan bisa tertangani di level bawah jika setiap desa memiliki setidaknya satu perawat. Perawat memiliki peran utama dalam menangani masalah kesehatan. Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo) Muhammad Judha dalam Angkat Sumpah dan Pelantikan Ners Angkatan XI, Selasa (12/11/2019).

“Kita bisa membayangkan kalau satu desa ada satu perawat, maka masyarakat yang ada di desa-desa itu akan menjadi sehat. Usaha yang tadinya promotif, rehabilitatif akan semakin berkurang, kalau perawat di desa dimaksimalkan, sehingga tidak ada lagi masalah kekurangan tenaga di tempat lain,” terang Judha, Selasa (12/11/2019).

Ia mengatakan keberadaan perawat bisa membantu meningkatkan peran promotif. Untuk merealisasikan satu desa satu perawat memang tidak mudah. Ia meyakini untuk wilayah DIY dengan tingginya kesadaran masyarakat, melalui satu desa satu perawat akan memudahkan layanan kesehatan. Di daerah lain terutama luar Jawa, program ini memang perlu ditingkatkan sehingga ada pemerataan tenaga kesehatan.

“Kalau pemerataan tenaga kesehatan yang memiliki pendidikan [profesi] ini bisa merata, saya kira masalah kesehatan di daerah-daerah ini bisa selesai,” ucap pria yang aktif di organisasi profesi perawat ini.

Pihaknya berusaha melatih perawat agar bisa memahami pasien dengan latar belakang dan kebiasaan sikap berbeda, persoalan ini menjadi fokus di dunia keperawatan. Di sisi lain perawat masih menghadapi tantangan berkaitan dengan kesetaraan sebagai tenaga kesehatan.

“Di beberapa daerah mungkin masih ada jarak terkait profesi perawat dengan tenaga kesehatan lain.  Harapannya antar tenaga kesehatan memiliki kesetaraan, karena sebenarnya paling utama harus bisa memiliki strategi untuk menangani pasien dari sebelumnya enggan dirawat menjadi peduli untuk diberikan perawatan,” ujarnya.

Ia mengatakan, peran perawat kini tidak hanya di klinik dan rumah sakit saja, namun juga ada perawat pendidik yang berada di sektor pendidikan. Secara nasional, untuk kebutuhan setiap rumah sakit bisa mencapai 70% perawat mengambil dari lulusan profesi ners dan sisanya lulusan diploma. Ia memastikan perawat di Indonesia tidak kalah dari negara lain, namun sebagian besar masih terkendala bahasa.

“Perawat kami ini memiliki kekhususan kemampuan di keperawatan medical bedah dan gawat darurat, selain bekerja di rumah sakit juga bisa di komunitas,” katanya.

Judha mengatakan dalam pelantikan itu, Unriyo secara resmi telah melepas sebanyak 137 tenaga kesehatan memiliki sertifikat profesi ners. Dari jumlah itu 46 di antaranya cumlaude dan 30 lulusan ners sudah diterima bekerja. Para lulusan tersebut sebelumnya telan mengantongi ijazah S1 Keperawatan kemudian kembali melanjutkan mengambil prodi profesi ners selama setahun. “Mereka sudah melalui uji kompetensi dan semua dinyatakan berkompeten,” ucapnya.