Perkosa Pacar di Bawah Umur, Pemuda Wonogiri Ancam Sebar Video
Polres Wonogiri menangkap pemuda 18 tahun yang diduga melakukan kekerasan seksual dan memeras korban dengan ancaman penyebaran rekaman.
Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD Panembahan Senopati Bantul, Agus Budi Raharja, saat mengunjungi pasien yang sedang melakukan cuci darah, Kamis (29/3/2019). /Ist-Dok
Harianjogja.com, BANTUL - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panembahan Senopati Bantul mengalami defisit akibat belum dibayarkannya tagihan BPJS dalam kurun waktu empat bulan terakhir. Bagaimana tidak, besaran dari tunggakan itu, mencapai Rp36 miliar.
Wakil Direktur (Wadir) Umum dan Keuangan RSUD Panembahan Senopati, Agus Budi Raharjo pun berujar, jumlah tersebut, merupakan akumulasi dari tunggakan pada bulan Juni-September 2019. Menurutnya, BPJS terakhir melakukan pembayaran bulan Mei.
"Angka itu secara keseluruhan sudah jatuh tempo. Jadi, ya murni utang," ujar Agus, ketika dijumpai di kantornya, Senin (11/11/2019).
Ia mengatakan, tunggakan itu merupakan tunggakan terbesar sepanjang sejarah. Padahal, cadangan devisa yang dimilikinya, maksimal hanya bisa untuk menalangi tunggakan selama dua bulan. Terlebih, dari pihak BPJS pun belum ada tanda-tanda akan melunasi.
"Kalau empat bulan tidak dibayar, ya kita semaput. Maksimal sekali tiga bulan lah, dulu pernah tahun lalu, di triwulan ke tiga, tapi tidak separah ini, ini sampai empat bulan, paling panjang," ucapnya.
"Biasanya, bulan-bulan ini akan ada pembayaran dari BPJS, kemungkinan ada, dibayar satu bulan dulu, jadi bukan pelunasan ya. Tapi, setidaknya ada kehidupan lagi lah," tambah Agus.
Jika polemik ini menjadi beban berat bagi RSUD Panembahan Senopati, maka adalah sebuah kewajaran. Sebab, 90 persen dari pasien mereka, adalah pemakai BPJS. Sedangkan sisanya, merupakan pasien umum, Jasa Raharja, serta asuransi-asuransi lainnya.
"Kita terbantu cash flow dari pasien umum dan Jasa Raharja yang relatif lancar ya. Sekitar Rp 1 milar per bulan kita dapat dana cash dari situ," katanya.
Praktis, pihaknya pun harus berjibaku menutupi defisit anggaran ini, dengan menerapkan berbagai kebijakan. Ia mengaku tidak ingin pelayanan untuk masyarakat yang hendak berobat, sampai terganggu akibat macetnya pembayaran dari BPJS tersebut.
"Kita efisiensi, semua direm, paling sederhana ya rapat tanpa snack. Kita juga menunda pembayaran tagihan pihak ketiga. Sampai hari ini, yang masih kita tunda mencapai Rp22,5 miliar," jelasnya.
Di samping itu, penarikan pinjaman ke perbankan, atau disebut dana talangan BPJS pun dimanfaatkan, demi menambal defisit. Sampai sekarang, pihaknya telah tiga kali melakukan penarikan dengan total Rp7 miliar, dari plafon Rp15 miliar yang dibukanya.
"Intinya, pemerintah kan memang menyediakan, dari kerjasama dengan BUMN, untuk dana talangan itu. Ini untuk kebutuhan operasional. Kalau tidak, ya kita tidak bisa beroperasi," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polres Wonogiri menangkap pemuda 18 tahun yang diduga melakukan kekerasan seksual dan memeras korban dengan ancaman penyebaran rekaman.
Penyaluran bantuan air bersih dilaksanakan pada Jumat (14/8/2026) di Dusun Klayu, Gude 1, dan Gude 2, Kalurahan Sumberwungu, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungki
Dispetaru Kabupaten Bantul menegaskan, pendirian bangunan di sempadan pantai harus mengikuti aturan merespons sejumlah bangunan yang rusak diterjang gelombang
Road trip makin populer di 2026. Simak 5 tips persiapan sebelum perjalanan jarak jauh
Prabowo menyebut negara menanggung penuh iuran JKN bagi 96,8 juta warga tidak mampu dan membangun 66 RSUD di berbagai daerah.
Kemendagri membuka Program Masadagri Batch III 2026 dengan 65 posisi magang di 12 unit kerja. Pendaftaran dibuka 15-19 Agustus 2026 untuk mahasiswa D4 dan S1.