Ribuan Pelajar di Bantul Ramaikan Lomba Dakon

Para pelajar memainkan biji dakon dalam lomba dakon atau congklak yang digelar History of Java Museum di Jalan Parangtritis, Sewon, Bantul, Sabtu (16/11/2019). - Harian Jogja/ Ujang Hasanudin
16 November 2019 21:27 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-- Ribuan pelajar dari berbagai tingkatan di Bantul mengikuti lomba dakon atau congklak yang digelar di History Of Java Museum, Jalan Parangtritis, KM 5,5, Sewon, Bantul. Festival Akbar Dakon Competition tersebut digelar sebagai salah satu upaya menumbuhkan kembali permainan tradisional sekaligus sebagai wahana pengembangan karakter pelajar di tengah gencarnya permainan berbasis teknologi.

“Permainan tradisional dakon ini banyak manfaatnya, bisa melatih anak untuk jujur, bekerjasama, dan adu strategi karena kalau berhenti di lubang yang kosong akan mati,” kata Ketua Penyelenggara Lomba Dakon, Ki Bambang Widodo, disela-sela lomba.

Selain itu, kata Bambang, permainan dakon juga dapat melatih anak untuk belajar gotong royong dan berinteraksi dengan teman. Sebab, permainan dakon mengharuskan lawan main sehingga ada proses komunikasi selama proses permainan. Hal itu menurutnya penting dilestarikan untuk mengalihkan sementara ketergantungan pada gadget yang cenderung egois dan individualis.

“Paling tidak, dalam permainan dakon ini ada lawan bermain untuk komunikasi. Kami ingin bagaimana permainan tradisional ini dapat membentuk karakter anak untuk jujur bisa dihidupkan kembali,” ujar Bambang, yang juga pengurus Badan Musyawarah Museum (Bahramus) DIY ini.

Total peserta yang ikut dalam lomba tersebut sekitar 2.200 anak yang terdiri dari siswa sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK). Selain itu ada juga kategori umum.

Jumlah peserta itu masih kalah dengan festival dakon yang digelar di Surabaya, Jawa Timur. Namun Bambang bangga ribuan siswa dapat hadir dan mengikuti perlombaan permainan tradisional tersebut. Lomba dakon memperebutkan piala bupati Bantul tersebut akan berlangsung selam empat hari ke depan.

Sejumlah stan makanan tempo dulu juga dihadirkan selama proses perlombaan. Bambang menyatakan lomba tersebut diharapkan menjadi titik awal bagi History f Java Museum untuk menggelar melestarikan permainan tradisional. Selanjutnya museum tersebut akan menggelar perlombaan permainan tradisional lainnya.

Salah satu peserta lomba, Nurisna Febiati mengaku senang bisa ikut dalam perlombaan tersebut. Siswi kelas lima SD Peni Palbapang Bantul ini mengaku sudah terbiasa bermain dakon sejak kelas tiga. “Diajari sama ibu,” katanya.

Dalam lomba kemarin ia berhasil memenangkan pertandingan di babak pertama dengan biji dakon yang terkumpul sebanyak 57 biji atau unggul dari lawannya.

Sebagaimana diketahui permainan dakon merupakan salah satu permainan tradisional. Permainan ini dimainkan oleh dua orang dan pemenangnya adalah yang paling banyak mengumpulkan biji dakon.

Ada 16 lubang dalam permainan itu. Dua libang di antaranya adalah lubang besar sebagai lumbung atau rumah. Sementara 14 lubang kecil lainnya diletakkan biji sebanyak tujuh butir tiap lubang. Masing-masing peserta akan memainkan biji tersebut secara bergantian dan peserta yang biji terakhir jatuh pada lubang lumbung atau jatuh pada lubang kecil yang kosong maka giliran permain lawan yang bermain.

Permainan dengan searah jarum jam ini bisa menggunakan media kayu, plastik atau tanah yang diberi lubang. Sementara bijinya bisa menggunakan media apapun, seperti kacang, kerikil atau biji lainnya yang dapat digenggam.