Kuantitas Jurnal Terakreditasi Tak Seimbang dengan Jumlah Dosen

Profesor Ocky Karna Radjasa saat memaparkan materi dalam seminar tentang literasi digital dalam publikasi ilmiah di Yogyakarta, Kamis (21/11/2019). - Harian Jogja/Sunartono.
22 November 2019 12:37 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kewajiban menulis publikasi ilmiah bagi dosen masih mengalami kendala tersendiri, yang juga terjadi pada akademisi sekelas profesor. Begitu juga media berupa jurnal terakreditasi di Indonesia jumlahnya belum seimbang dengan kuantitas dosen yang mencapai ratusan ribu.

Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional Profesor Ocky Karna Radjasa mengatakan saat ini Indonesia memiliki 297.000 dosen, 5,5 juta mahasiswa S1, 326.000 mahasiswa S2, 33.000 mahasiswa S3 dan Diploma hampir 1 juta. Jika jumlah dosen itu semuanya menulis maka sudah sangat banyak yang bisa diterbitkan.

Tetapi sayangnya, kata dia, tidak semua dosen mau menulis, bahkan dari 5.400 profesor hanya sekitar 250 yang menulis publikasi ilmiah buku ajar terindeks Google Schooler.

“Berdasarkan kajian kami pada dua tahun lalu, dari 5.400 profesor di Indonesia, yang menulis buku ajar dan terindeks di Google Schoolar artinya ditulis oleh profesor, diterbitkan, dibaca dan disitasi [dikutip] oleh orang lain, jumlahnya tidak ada 250 profesor,” katanya dalam seminar Meningkatkan Kemampuan Literasi Digital dalam Publikasi Ilmiah di Era Revolusi Industri 4.0 di Jogja, Kamis (21/11/2019).

Ocky mengakui dari sisi jurnal belum seimbang dengan jumlah dosen. Indonesia butuh sekitar 8.500 jurnal untuk memfasilitasi S2 dan S3 yang berpotensi menghasilkan tulisan. Padahal hingga saat ini baru ada 2.800 jurnal terakreditasi Science and Technology Index (Sinta), masih butuh 5.700 jurnal lagi. Pihaknya mengalokasikan dana Rp7,5 miliar untuk mempercepat proses akreditas jurnal nasonal. Pada 2019 ini ditarget jumlahnya meningkat jadi 6.000 jurnal nasional terakreditasi.

“Targetnya tahun ini bisa menambah sekitar 2.000 jurnal terakreditasi nasional, sehingga menjadi 4.800 jurnal, ditambah PTNBH [perguruan tinggi negeri berbadan hukum] diberi kewajiban menambah 1.000 jurnal terakreditasi,” ucapnya.

Ia menilai jumlah dan kualitas jurnal di Indonesia sudah cukup mampu mendorong tumbuhnya publikasi ilmiah. Tetapi sampai saat ini di Indonesia baru memiliki 57 jurnal yang terindeks scopus. Sehingga jika sebanyak 297.000 dosen ingin publikasi di jurnal terindeks scopus di Indonesia jelas tidak memungkinkan. Publikasi didorong dari berbagai jenis jurnal, sehingga para dosen harus meningkatkan kapasitas agar karyanya bisa termuat di jurnal bereputasi. “Bisa saja nanti dikirim, kemudian di-review tetapi naik cetaknya mungkin 10 tahun yang akan datang,” katanya.

Ketua Panitia Seminar Soepri Tjahjono mengatakan sebagai dosen yang memiliki kewajiban publikasi ilmiah harus mengantisipasi terhadap era digitalisasi seperti munculnya plagiarisme. Sehingga harus melakukan banyak proses literasi agar tidak melakukan plagiat.

"Melalui forum ilmiah ini agar dosen bisa menemukan solusi untuk bisa menulis karya ilmiah yang bisa diakses dan diupload secara digital tentu dengan kode etik,” katanya.

Jumlah peserta yang terlibat sebanyak 120 dosen dari 19 perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Dalam seminar itu ada diskusi pararel yang dikelompokkan sesuai bidang keilmuan seperti kesehatan, teknik, sosial humaniora dan sosial.

"Untuk yang presentasi karya ilmiah ini ada 90 dosen, hasil diskusi ini juga akan dipublikasikan secara digital pada jurnal yang sudah terindeks google scholar sehingga siapapun yang akan mengkakses judul penelitian, hasil penelitian bisa terlihat,” ucapnya.

Wakil Rektor I Unriyo Fransiska Lanni mengatakan saat ini publikasi ilmiah sudah menjadi kebutuhan dosen dan perguruan tinggi. Bahkan kualitas publikasi dosen juga bisa menjadi penentu pemeringkatan suatu perguruan tinggi. Ia menyinggung soal era digital dengan berbagai keterbukaan informasi yang secara positif bisa bertukar pikiran untuk memunculkan ide penelitian, namun bisa berdampak negatif seperti adanya plagiarisme karena kemudahan akses.