Pemkab Siapkan Tenaga Medis untuk RS Saptosari

Ilustrasi pelayanan kesehatan - JIBI
01 Desember 2019 20:27 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pembangunan rumah sakit tipe D di Kecamatan Saptosari memasuki tahap akhir. Untuk mendukung operasional dan melengkapi pelayanan, Pemkab Gunungkidul segera menyiapkan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) khususnya tenaga medis.

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka, mengatakan persiapan pemenuhan SDM tenaga medis mulai dilakukan pada awal Desember 2019. Dalam waktu dekat Dinkes bakal menggelar rapat koordinasi (rakor) terkait pemenuhan SDM tersebut. Pemenuhan SDM berasal dari unit pelaksana teknis daerah (UPTD) seperti puskesmas, RSUD Wonosari hingga Dinas Kesehatan. Tak hanya itu, pengisian tenaga medis juga berasal dari usulan CPNS dan tenaga kontrak.

"Untuk pemenuhan SDM inti melalui penempatan SDM dari Dinkes, puskesmas dan RSUD Wonosari. Untuk pengisian formasi usulan CPNS dari Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah [BKPPD] dan kekurangannya melalui penambahan tenaga kontrak setelah RSUD Saptosari ditetapkan sebagai badan layanan umum daerah [BLUD]," kata Priyanta saat ditemui Sabtu (30/11/2019).

Menurut Priyanta, pemenuhan SDM rencananya dilakukan melalui tiga proses, baik untuk pemenuhan tenaga medis maupun nonmedis. Untuk pembangunan fisik tahap akhir hingga saat ini masih terus dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul.

Dalam waktu dekat, kata Priyanta, dilakukan pengecekan bersama pihak terkait guna memastikan pendistribusian pemenuhan awal alat kesehatan (alkes) untuk rumah sakit tersebut. "Untuk pembangunan fisik, saat ini masuk tahap pengaspalan jalan lingkungan. Kami menjadwalkan pengecekan bersama rekanan untuk memastikan distribusi alat kesehatan sudah bisa dilakukan atau belum," ujarnya.

Priyanta menjelaskan pengadaan alat kesehatan untuk RSUD Saptosari dilakukan secara bertahap dengan anggaran Rp12 miliar. Saat ini, diakuinya, untuk pemenuhan alkes tidak menemui kendala yang berarti, sehingga kebutuhan telah sesuai dengan harapan.

Tak hanya itu, Dinkes juga mengkaji dan menyiapkan regulasi dasar untuk pelayanan di RSUD Saptosari mulai dari hospital by law, peraturan bupati terkait dengan tarif hingga menyiapkan draf untuk BLUD. "Kalau sudah selesai akan segera kami kirim ke bagian hukum," ujarnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Eddy Praptono, menyatakan rumah sakit pratama tipe D di Kecamatan Saptosari dibangun secara komprehensif dengan mempertimbangkan aspek medis, arsitektur modern dan mekanikal elektrikal yang canggih.

“Konsep sirkulasi dan zonasi area privat tetap mendukung adat istiadat warga setempat untuk secara leluasa dan nyaman menjenguk pasien tanpa mengganggu aktivitas medis di dalam rumah sakit," katanya, beberapa waktu lalu.

Menurut Eddy, pembangunan rumah sakit di Saptosari menelan anggaran Rp34 miliar yang dianggarkan dalam tahun jamak. Anggaran itu digunakan untuk pembangunan gedung beserta sarana dan prasarana meliputi gedung A yang di dalamnya memuat instalasi gawat darurat, dua ruang operasi, lima ruang poli pemeriksaan, ruang tunggu periksa, ruang farmasi, ruang radiologi, laboratorium, ruang rawat inap, ruang ICU, ruang isolasi, ruang jenazah dan perkantoran.