Kawasan YIA Digadang-gadang Jadi Aerotropolis, Investor Ternyata Belum Berminat

Pesawat di Yogyakarta International Airport, Kulonprogo. - Harian Jogja/Desi Suryanto
13 Desember 2019 18:37 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-Rencana kawasan aerotropolis di Kulonprogo belum diminati investor.

Meski kawasan Yogyakarta International Airport akan dikembangkan menjadi aerotropolis, namun belum banyak investor yang menanamkan modalnya ke kawasan itu. Saat ini, investasi di Kulonprogo masih lebih diminati di kawasan peruntukkan industri.

Walau begitu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (DPMPT) Kulonprogo Agung Kurniawan menuturkan realisasi investasi di Kulonprogo jauh melampaui target yang diharapkan. "Target kami itu cuma Rp1 trilyun, tapi nyatanya hingga triwulan III di tahun 2019 ini sudah mencapai Rp9,179 trilyun," kata Agung, Jumat (13/12/2019).

Total investasi itu terdiri atas realisasi penanaman modal asing (PMA) dari 11 perusahaan sebesar Rp892 milyar dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp8,286 trilyun dari 34 perusahaan. "Itu termasuk Angkasa Pura I sebagai investor terbesar yaitu sebesar Rp7,564 triliun," ujarnya.

Walau aerotropolis sedang dikembangkan luasannya menjadi 15 kilometer, penanam modal belum banyak yang mengajukan izin di kawasan tersebut dan masih banyak yang memilih kawasan peruntukkan industri. "Banyak yang masuk, tapi karena mereka belum melaporkan LKPM (Laporan Kegiatan Penanaman Modal), maka belum bisa dihitung nilai investasinya," jelas Agung.

Walau begitu, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi kepada calon investor lewat berbagai kesempatan, salah satunya investor gathering. Ia menuturkan syarat investasi di Kulonprogo harus ramah lingkungan.

"Kami dorong investasi yang padat modal, padat karya, kemudian ramah lingkungan. Itu syarat investasi di Kulonprogo," ujarnya.

Saat ini sudah ada satu apartemen, satu hotel bintang 3, dua hotel bintang 4, dan dua rest area yang sudah mengurus izin berinvestasi dan pembebasan lahan di aerotropolis Kulonprogo. "Sementara yang sedang proses perizinan ada tiga hotel bintang 3," kata Agung.

Kepala Seksi Data dan Informasi DPMPT, Dheny Setyawati menuturkan dari penanaman modal dalam negeri saat ini urutan tiga besarnya yaitu industri kendaraan bermotor otomotif pertanian, industri kosmetik, dan jasa kesehatan. Sementara dari penanaman modal asing yang terbesar ialah produk sarung tangan dan tekstil dari Korea.

"Ada dua yang baru saja masuk dari PMDN yang sudah LKPM, yaitu produk makanan serta pengolahan gula kelapa dan rempah organik," ujar Dheny.