Budi Abadi Fokus pada Kegiatan Sosial

Ketua Umum Perhimpunan Budi Abadi atau Hoo Hap Hwee Harry Setio ketika ditemui di ruangannya di Budi Abadi, Bintaran, Jogja, Rabu (8/1)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
10 Januari 2020 06:22 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Salah satu organisasi warga keturunan Tionghoa di Jogja, Perhimpunan Budi Abadi atau Hoo Hap Hwee telah berdiri sekitar 110 tahun. Perhimpunan ini fokus pada kegiatan sosial untuk membantu sesama. 

Ketua Umum Budi Abadi Harry Setio mengatakan di dalam tubuh perhimpunan dianut sistem persaudaraan. Ada istilah twa ko (kakak pertama), djie ko (kakak kedua), dan sa ko (kakak ketiga). Harry pun menjadi twa ko dalam perhimpunan ini. Ia sudah mengabdikan diri selama 27 tahun atau sejak 1993 sebagai ketua atau kakak pertama.

Ia mengungkapkan perhimpunan dibentuk dari awal untuk bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan. Hal itu diwujudkan dalam berbagai kegiatan di bidang sosial seperti melayani pengobatan, urusan kematian serta persemayaman jenazah, dan olahraga seperti wushu.

Untuk kesehatan, setiap Rabu dan Jumat ada pengobatan gratis seperti akupuntur dan prana. Untuk akupuntur dilayani setiap Rabu pukul 10.00-21.00 WIB dan Jumat pukul 10.00-17.00 WIB. Untuk Prana setiap Rabu pukul 19.00-24.00 WIB.

"Terapisnya kalau datang semua bisa 23 orang. Tetapi, rata-rata yang datang 12 hingga 14 orang. Itu ada yang dari luar Jogja seperti Magelang," terang dia kepada Harian Jogja ketika ditemui di ruangannya di Budi Abadi, Bintaran, Jogja, Rabu (8/1).

Jumlah pasien pun cukup banyak yakni rata-rata 120 orang setiap kali hari terapi. Namun, untuk awal tahun ini memang belum seramai biasanya. Rata-rata sekitar 40 hingga 50 orang. "Pasiennya juga enggak hanya dari Jogja. Ada juga yang dari luar Jogja yakni Semarang, Solo, Surabaya," kata dia.

Tidak hanya bidang sosial, perkumpulan ini juga aktif dalam seni dan budaya. Perkumpulan ini membentuk klub Liong dan Samsi bernama Hoo Hap Hwee. Namun, keberadaan Liong dan Samsi atau Naga Barongsai dikhususkan untuk kegiatan ritual saja, bukan sebagai pertunjukan.

Menurutnya, Budi Abadi bisa bertahan hingga sekarang karena benar-benar menjunjung nilai kebersamaan, persaudaraan, dan sosial. Semua orang pun bisa masuk menjadi anggota paguyuban karena tidak ekslusif khusus warga Tionghoa saja.

"Karena kami berdasarkan sosial dan kemanusiaan. Orang itu ada sisi kemanusiaan. Ada yang benar-benar sadar sisi kemanusiaan dan sisi sosialnya. Jadi, kurang pas kala orang pandai dan kaya enggak punya sisi sosial dan kemanusiaan," kata dia.

Budi Abadi juga aktif ketika terjadi bencana alam di DIY. Budi Abadi akan menurunkan sukarelawan untuk membantu masyarakat.

Untuk persemayaman jenazah, Budi Abadi juga siap membantu masyarakat kurang mampu dari semua agama. Jika benar-benar tidak mampu, Budi Abadi siap membantu. Namun, untuk masyarakat yang mampu maka ada sistem subsidi silang untuk masyarakat yang kurang mampu.