Petugas Penanganan Antraks: Siap 24 Jam, Pakai Baju Kedap Udara

Siti Kholimah menunjukkan baju kerjanya di Dinas Pertanian dan Pertanian (DPP) Gunungkidul, Jumat (17/1/2020). - Harian Jogja/Muhammad Nadhir Attamimi
19 Januari 2020 18:37 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Merebaknya penyakit antraks membuat Kantor Bidang Peternakan, Dinas Pertanian dan Pertanian (DPP) Kabupaten Gunungkidul sibuk. Instansi itu menjadi garda terdepan dalam penanganan antraks. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Muhammad Nadhir Attamimi.

Siti Kholimah, pegawai Bidang Peternakan, Dinas Pertanian dan Pertanian (DPP) Gunungkidul, sibuk membereskan berbagai peralatan medis begitu sampai di tempat kerjanya pada Jumat (17/1/2020).

Peralatan medis seperti obat-obatan dan pakaian alat pelindung diri Personal Protective Equipment (PPE) seakan selalu menempel di tubuhnya sejak akhir tahun lalu.

Sejak penyakit antraks yang menyebabkan sejumlah hewan ternak di Kabupaten Gunungkidul mati, peralatan itu selalu disiapkan Siti Kholimah. Pasalnya, setiap terjun ke lapangan, berbagai peralatan lengkap harus dibawa mulai dari pakaian pelindung PPE yang dilengkapi pakaian safety full body, kantung kaki, apron penutup badan depan, kantung sampah, cairan alkohol hingga sarung tangan; peralatan lab untuk pengambilan sampel; serta peralatan medis lainnya seperti suntik dan jarum, obat anti radang, vitamin, vaksin, kapas alkohol, masker, jas hujan hingga cairan formalin.

Sebagai seorang petugas Paramedik di Laboratorium Kesehatan Hewan DPP Gunungkidul, Siti bersama rekan lainnya saat ini tengah disibukkan dengan kemunculan kasus antraks yang menyebabkan 27 warga di Dusun Ngrejek Wetan dan Kulon, Desa Gombang, Kecamatan Ponjong positif terkena bakteri

Bacillus anthracis.

"Kalau menghitung jumlah ternak mati yang saya ikut tangani lupa, tapi setiap ada hewan mati saya ikut ditugaskan," kata Siti saat ditemui di Kantor DPP Gunungkidul, Jumat (17/1.2020).

Baju PPE merupakan standar operasional prosedur (SOP) yang digunakan setiap petugas medis yang bekerja dengan bersentuhan ternak mati mendadak.

Baju yang semuanya berwarna putih itu mirip dengan baju astraunout. Baju tersebut ketika dipakai akan terasa panas. Karena, lanjut dia, bahannya didesain sedemikian rupa agar kedap udara. Hal tersebut guna mengantisipasi udara sekitar yang telah terkontaminasi oleh penyakit yang bisa menyerang tubuh kapan dan di mana saja. Mulai dari ujung kaki hingga kepala semua badan tertutupi, kecuali di sekitaran mata.

"Di sekitaran mata ini saja yang masih terbuka tanpa tertutup, memang baju ini dari ujung kaki sampai kepala terutupi, mata dilindungi kacamata, sekitaran mata ini tidak tertutup," kata dia sambil menunjukkan bagian bawah kelopak dan atas kening wajahnya yang tidak tertutupi.

Solusinya, setelah merampungkan tugas tersebut, sekitaran mata itu disemprotkan antiseptik atau mengusap dengan kertas cairan alkohol. Semua peralatan untuk safety sudah terproteksi, sehingga semua pekerjaan yang dilakukan berjalan dengan aman dan lancar. "Baju PPE itu kan hanya sekali pakai, setelah dipakai dibungkus plastik kemudian ditimbun dengan ternak mati itu," ujarnya.

Sebelum terjun langsung menangani ternak mati, ketua tim akan melaksanakan breafing untuk menentukan seperti apa penanganannya di lapangan, siapa petugas yang masuk ke kandang, menerima sampel, mengkode sampel hingga yang mengubur ternak. Hingga saat ini, semua ternak yang mati dan telah diambil sampelnya, dikubur secepat mungkin. "Jadi enggak mesti saya harus satu tugas khusus, bergantian sesuai kondisi tubuh. Gunanya breafing untuk menentukan tugas masing-masing, karena siapa yang ngasih kode sampel tidak boleh masuk kandang, itu penting," ujarnya.

Sebab, sampel yang diambil tidak boleh dibuka lagi hingga tiba di tangan petugas Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) Wates atau Bogor. Selain itu, petugasnya tidak boleh terkontaminasi oleh udara.

Dia mengatakan setiap ada kejadian ternak mati, waktu itu petugas harus langsung ke lapangan tidak peduli apakah hari libur atau tengah malam.

Kondisi itu menyebabkan kekhawatiran tersendiri baik pada diri petugas maupun keluarganya. Apalagi penyakit yang ditangani termasuk penyakit mematikan. Namun, kata Siti, untuk meminimalisasi dampak SOP selalu dijalankan.

Ia menuturkan sebelum sampai di rumah, sebisa mungkin agar semua tubuh dalam kondisi bersih. Bekas pakaian yang digunakan juga setiba di Kantor DPP langsung direndam dengan antiseptik kemudian dicuci dengan deterjen seperti biasanya. Dirinya cukup beruntung dengan keluarga yang mampu memahami pekerjaan yang digelutinya selama ini.

"Kalau khawatir pasti ada kan kami bersentuhan dengan bakteri langsung yang bisa jadi spora. Kalau keluarga kami berikan pemahaman sedikit demi sedikit, dan yang penting kami pulang sudah dalam kondisi bersih," katanya.

Menurut Siti, pakaian PPE wajib dipakai petugas untuk menangani ternak yang mati mendadak, meski belum diketahui penyebabnya.

Perempuan berumur 31 tahun ini menjelaskan tidak hanya instansinya yang turun ke lapangan dan bersentuhan langsung dengan ternak. Bagian UPT Pusat Kesehatan Hewan (Puskewan) setempat dan bagian Laboratorium juga ikut turun tangan.

"Iya kalau turun ke lapangan memang harus gunakan baju putih-putih ini sebagai baju atau alat pelindung diri, namanya PPE," ujarnya.

Siti hanya berharap agar kasus ini segera rampung, sehingga warga tidak khawatir lagi dan petugas yang selama ini bekerja di lapangan bisa beristirahat sejenak. Sebab, selama kasus tersebut muncul, para petugas harus siap selama 24 jam dan tujuh hari penuh.