Pernikahan Dini Jadi Salah Satu Penyebab Anak Stunting

Sosialisasi penanganan stunting yang digelar di Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Bantul, Kamis (24/1/2020). - Ist/dok panitia
24 Januari 2020 15:47 WIB Abdul Hamied Razak Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Penanganan stunting pada anak membutuhkan keterlibatan semua pihak. Pasalnya penyebab stunting terdiri dari sejumlah faktor. Salah satunya maraknya pernikahan dini.

Menurut Kelik Subagyo, Kepala Desa Muntuk, Dlingo, Bantul Kelik Subagyo mengatakan pernikahan usia dini banyak terjadi di desanya. Ia sudah berusaha agar warga meminimalkan pernikahan dini untuk mengurangi kasus gizi buruk maupun stunting. Di desanya, masih ditemukan warga yang menikah usai lulus Sekolah Menengah Pertama.

Kelik mengaku sering mensosialisasikan tentang gizi bagi ibu hamil dan anak-anak. Termasuk juga sosialisasi tentang stunting. "Bagi saya sebagai lurah, intinya kesadaran orang tua, agar sadar terhadap gizi anak, kesadaran pola hidup, dan kesadaran mengenai stunting," kata Kelik saat sosialisasi penanggulangan stunting melalui rilis yang diterima Harianjogja.com, Jumat (24/1/2020).

Menurut Kepala Puskesmas Dlingo Ahmad Riyanto, stunting menjadi parameter kualitas kehidupan anak. Jika orang tua memperhatikan 1000 hari pertama kehidupan anak, maka hasilnya akan terlihat pada lima tahun mendatang. "Oleh karenanya yang harus disiapkan sejak awal adalah kondisi sebelum hamil atau pra nikah, awal kehamilan, pemeliharaan anak usia 0 bulan, enam bulan, hingga dua tahun," kata Ahmad.

Stunting, kata Ahmad, adalah kondisi gagal tumbuh pada tubuh dan otak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, kondisi tubuh anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

Dia mengakui, kasus stunting  di Desa Muntuk memang cukup banyak. Sejumlah ibu juga mengeluhkan anak-anaknya susah makan. Maka ia memberi tips agar anak-anak tetap mengkonsumsi makanan sehat dan mengurangi jajan. "Asupan makanan bergizi itu sangat penting bagi anak," tegasnya.

Pihak swasta juga diminta untuk peduli terhadap banyaknya kasus stunting. Mereka diharapkan bisa bersinergi dengan pemerintah dan juga tenaga ahli kesehatan untuk menangani kasus stunting. "Kami mendukung program pemerintah dalam menanggulangi stunting. Sebab berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, angka penderita stunting atau kerdil balita di Bantul mencapai 22.89 persen,” kata HOD Head of Corporate Communications & CSR PT. Tripatra Engineers and Constructor (Tripatra), Ninesiana Saragih.

Sebagai bentuk nyata dukungannya untuk penanggulangan stunting, pihaknya kegiatan penanggulangan stunting di Desa Muntuk Kecamatan Dlingo, Bantul. Sejumlah 105 orang mengikuti kegiatan ini. Mereka  merupakan warga dari tiga desa di Kecamatan Dlingo. Selain penyuluhan, dibagikan pula buklet berisi panduan pola hidup pencegahan stunting.

Dlingo dipilih, kata Ninesiana, karena termasuk lokasi khusus yang ditetapkan pemerintah sebagai fokus stunting. Kabupaten Bantul merupakan satu dari 60 kabupaten/kota prioritas stunting di Indonesia. "Stunting bukan isu baru dalam dunia kesehatan, merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang pada 1000 hari pertama kehidupan anak (usia emas), yaitu sejak janin hingga usia anak dua tahun," katanya.