Rumah Murah di DIY Justru Harus Diwaspadai, Ini Penyebabnya

Seminar properti di Hotel Ibis Style, Jogja, Kamis (30/1/2020). - Harian Jogja/Budi Cahyana
30 Januari 2020 16:17 WIB Budi Cahyana Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Masyarakat diminta berhati-hati sebelum membeli hunian. Rumah yang terlalu murah maupun rumah yang ditawarkan dengan konsep emosional dan spiritual patut dicurigai.

Rama Adyaksa Pradipta, Ketua DPD Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI) DIY, mengatakan harga rumah di DIY secara umum terbagi dalam tiga jenis, yakni di bawah Rp500 juta, antara Rp500 juta dan Rp700 juta, serta di atas Rp700 juta. Hampir sebagian besar konsumen membeli rumah di bawah Rp500 juta untuk hunian, sebaliknya mayoritas konsumen membeli rumah di atas Rp700 juta untuk investasi. Sementara, rumah dengan harga Rp500 juta sampai dengan Rp700 juta rata-rata dipakai untuk tempat tinggal dan investasi.

Harga rumah di DIY cenderung mahal karena harga tanah juga mahal. Rema mencontohkan rumah bersubsidi yang harganya dibatasi pemerintah tak boleh lebih dari Rp150 juta pada 2020. Menurut dia, rumah dengan harga tersebut hanya bisa dibangun di atas tanah seharga Rp200.000 per meter persegi.

“Padahal mencari tanah dengan harga Rp200 meter persegi sangat sulit, kalau pun ada, tempatnya jauh dan tidak strategis, seperti di Ponjong [Gunungkidul]. Pengembang tidak punya banyak ruang untuk membangun rumah murah karena harga tanah sangat tinggi,” kata Rama dalam Seminar Investasi Properti di DIY Masih Menguntungkan dan Aman di Hotel Ibis Style, Kota Jogja, Kamis (30/1/2020).

Dalam kondisi demikian, pembeli harus ekstra waspada apabila mendapat tawaran rumah yang sangat murah.

“Rumah yang harganya sangat murah harus benar-benar dikroscek karena secara alami, harga rumah murah sulit ditemukan.”

Selain soal harga, konsumen juga harus hati-hati ketika ditawari hunian dengan konsep emosiaonal ataupun spiritual, misalnya perumahan syariah. Menurut Rama, hunian berkonsep emosional dan spiritual bisa digoreng oleh pengembang nakal untuk meraih keuntungan tanpa mempertanggungjawabkan aspek pembangunan yang layak. “Rasionalitas pembeli bisa dikaburkan oleh konsep emosional dan spiritual.”

Rama mengatakan konsumen harus benar-benar mengecek profil pengembang. Perumahan yang paling aman dibangun oleh pengembang yang tergabung dalam asosiasi. Konsumen juga harus jeli mengecek lokasi dan tata ruang karena bisa jadi tempat dibangunnya perumahan tidak sesuai dengan peruntukan.

Selain menghadirkan Rama, seminar properti yang digelar REI dan Harian Jogja ini mendatangkan narasumber Aris Prasena, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY, dan Miyono, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY.

Aris mengatakan fokus pemerintah saat ini adalah menyediakan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Hunian yang paling masuk akal untuk dibangun di tengah harga tanah yang terus melambung adalah hunian vertikal atau rumah susun.

Adapun Miyono menyebut prospek bisnis properti di DIY masih bagus karena daya beli masyarakat masih kuat.  “Berdasarkan survei konsumen, indeks keyaikan konsumen di DIY masih tinggi,” kata Miyono.