Pemahaman Gender Lebih Dalam Menggunakan Alat Peraga

Sosialisasi Simulasi Keluarga Sadar Gender di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Senin (10/2/2020). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
11 Februari 2020 03:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Pengetahuan masyarakat terkait gender di wilayah Sleman mulai meningkat. Hanya saja, upaya untuk memahamkan masalah gender secara mendalam masih perlu dilakukan.

Kepala Dinas P3AP2KB, Mafilindati Nuraini mengatakan saat ini warga Sleman banyak yang mengetahui masalah gender. Hanya saja soal gender secara mendalam masih perlu terus diupayakan. Salah satunya, dengan sosialisasi menggunakan metode simulasi atau alat peraga.

"Simulasi dengan alat peraga ini bertujuan untuk memudahkan masyarakat memahami apa dan bagaimana kesetaraan gender itu," katanya di sela Sosialisasi Simulasi Keluarga Sadar Gender di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Senin (10/2/2020).

Sosialisasi tersebut dikemas dengan simulasi menggunakan alat peraga dan diikuti oleh 17 desa perwakilan masing-masing kecamatan di Sleman. Tujuannya untuk memberikan pemahaman yang mudah kepada masyarakat.

Mafilinda menjelaskan kesetaraan gender itu suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan dan laki-laki.

Dia berharap ke depan di Sleman akan menjamur terbentuknya keluarga dengan ketahanan gerder yang baik. Dengan modal tersebut, masyarakat mampu mengawal pembangunan di wilayah Sleman yang responsif gender. "Kesetaraan dan keadilan gander sangat penting karena memberikan hak dan kewajiban yang sama bagi [anak] laki-laki dan perempuan untuk berperan dalam keluarga, lingkungan pendidikan, dan masyarakat," katanya.

Dia mengatakan, sejak Simulasi Keluarga Sadar Gender diasosiasikan pada 2018 lalu, Indeks Pembangunan Gender di Sleman meningkat sebesar 96,3. Pemkab juga mendapat penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) kategori mentor 2018 dari Kementerian Pemberdayaan, Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA).

Dinas, katanya, terus melakukan evaluasi Pengarusutamaan Gender (PUG) masing-masing wilayah. Hal itu dilakukan sebagai strategi yang rasional dan sistematis untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender dalam seluruh aspek kehidupan manusia. "Evaluasi dilakukan untuk melihat sejauh mana pelaksanaan PUG untuk meningkatkan kualitas budaya masyarakat dan kesetaraan gender yang proporsional," katanya.

Sebelumnya, Kabid Pemberdayaan Perempuan DP3AP2KB SLeman, Kumala Retno menjelaskan indikator yang digunakan untuk mengevaluasi PUG meliputi akses, partisipasi, kontrol dan manfaat (APKM) masyarakat laki-laki dan perempuan secara adil dalam pembangunan.

"Ada tujuh prasyarat PUG yang harus dipenuhi mulai komitmen, kebijakan, kelembagaan, sarana prasarana/anggaran/SDM, alat analisis, data pilah gender dan partisipasi masyarakat," katanya.

Selain itu, afirmasi pelaksanaan PUG juga harus memperhatikan kelompok rentan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi perangkat daerah. Meliputi balita, anak, perempuan hamil, melahirkan dan menyusui, lansia, disabilitas, perempuan korban kekerasan, perempuan kepala keluarga, situasi bencana dan keluarga miskin.