Budaya Lokal Pengaruhi Penyajian Dim Sum

Bendahara Jogja Chinees Arts & Culture Centre (JCACC), Tjundaka Prabawa di belakang sajian dim sum, dalam Pameran Rumah Peranakan di Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2020, Kamis (6/2)./ Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo
13 Februari 2020 22:57 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Berbagai penyesuaian dengan minat masyarakat di Indonesia dilakukan untuk menyajikan dim sum.

“Ada penyesuaian pastinya, di Indonesia banyak yang halal. Berbeda dengan di Hong Kong atau China kebanyakan non halal kalau disana,” kata Bendahara Jogja Chinees Arts & Culture Centre (JCACC), Tjundaka Prabawa, di sela-sela Festival Dim Sum, dalam Pameran rumah peranakan di Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2020, Kamis (6/2).

Tjundaka mengatakan penyebutan pun sebenarnya telah berbeda ketika menyebut dim sum walaupun yang dimaksud sebenarnya sama. “Kalau orang China atau Hong Kong menyebutnya yamcha, minum teh sambil makan itu [dim sum], jadi menyebutnya tidak ada makan dim sum gitu,” ucapnya.

Kemudian secara waktu menyantap pun menurutnya berbeda. Jika di China atau Hong Kong waktu menyantap dim sum di pagi hari, sementara di Indonesia atau Jogja sendiri biasanya dim sum tetap disajikan hingga malam hari.

Dikatakannya Dim sum sendiri sudah ada sejak zaman Dinasti Han atau 206 SM – 220. Dim sum juga dibagi menjadi dua pertama kukus yang biasa disajikan dengan tempat dari bambu dan dalam bentuk goreng yang kedua.

 

Sejarah Panjang

Berdasarkan informasi dalam pameran PBTY 2020, dim sum merupakan istilah dari bahasa Kantonis yang memiliki arti makanan kecil, sedangkan dalam bahasa Mandarin disebut dianxin yang secara harafiah berarti sedikit dari hati atau menyentuh hatimu. Sesuai dengan porsi per sajian yang kecil dan jumlahnya memang tidak banyak, hanya sekitar tiga hingga empat buah dalam satu piring atau wadah kukusan bambu.

Kudapan ini berasal dari Jalur Sutra khususnya di bagian Asia Tengah, tepatnya pada zaman Dinasti Han merupakan rute perjalanan yang sering dilalui pedagang, buruh, dan petani. Orang-orang yang berlalu lalang membutuhkan tempat istirahat dan kemudian mampir sejenak ke kedai, untuk menikmati teh dan makanan ringan. Makanan ringan inilah yang sekarang kita kenal dengan dim sum dan kemudian muncul istilah yumcha yang berarti minum teh bersama sambil menyantap dim sum.

Kebiasaan makan dim sum ternyata pernah pudar sejenak. Hal ini dikarenakan oleh salah satu tabib yang terkenal pada zaman itu, Hua Tuo mengatakan makan dim sum dapat mengakibatkan kegemukan. Namun, masyarakat Kanton di Cina Selatan tidak mempedulikan imbauan tersebut, malah menjadikan dimsum sebagai makanan tradisional untuk dinikmati dengan teh bersama teman-teman.