UNESCO Beri 7 Rekomendasi untuk Geopark Gunungsewu, Begini Tanggapan Pemkab

Embung Nglanggeran di Kecamatan Patuk, Gunungkidul. - Harian Jogja - Galih Eko Kurniawan
20 Februari 2020 07:47 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Pemkab Gunungkidul siap menindaklanjuti rekomendasi dari UNESCO terkait dengan status Geopark Gunungsewu. Di dalam validasi ulang kepesertaan dalam UNESCO Global Geopark, tim penilai memberikan tujuh rekemendasi.

Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, Hary Sukmono mengatakan pemkab secara prinsip siap menindaklanjuti catatan yang diberikan UNESCO. Menurut dia, di awal pemberian catatan hanya lima dan sekarang bertambah menjadi tujuh rekomendasi.

“Kami akan segera menindaklanjuti bersama tim Geopark Gunungsewu seperti promosi tingkat dunia dengan cara mengikuti seminar internasional,” katanya kepada wartawan, Rabu (19/2/2020).

Menurut dia, untuk tindaklanjut, pemkab juga akan berkoordinasi dengan Pacitan dan Wonogiri. Hary mengatakan, tindaklanjut ini penting untuk revalidasi yang dilaksanakan setiap empat tahun sekali. “Kia sudah dapat green card [status UGG Gunungsewu], jadi rekomendasinya harus dilaksanakan,” katanya.

Presiden Geopark Indonesia, Budi Martono mengatakan, Gunungsewu berhasil mempertahankan keanggotaan di UGG dalam simposium Asian Pasific Geopark Network (APGN) yang berlangsung di Geopark Rinjani, September 2019 lalu. “Resminya akan diserahkan tahun ini,” katanya.

Mantan Sekda Gunungkidul ini mengatakan, status Green Card merupakan langkah awal untuk mengembangkan Geopark Gunungsewu yang lebih baik sesuai dengan konsep dari geopark. Terlebih lagi dari 33 site yang ada belum semuanya dikembangkan.

"Saya dengan teman-temannya menegaskan bahwa bukan Green card nya yang utama, tapi bagaimana pengelolaan Geopark Gunungsewu secara berkelanjutan,” katanya.

Dia mencontohkan, di Gunungkidul ada geosite yang berjalan dengan baik seperti di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran di Patuk dan Kalisuci di Desa Pacarejo, Semanu. Hal inilah yang harus dikembangkan dan diterapkan di geosite lainnya. “Kami mengajak teman-teman yang ada di Ngelanggeran dan Kalisuci untuk menularkan ilmunya ke geosite yang lain,” imbuhnya.

Tujuh rekomendasi untuk Geopark Gunungsewu

-Menambah visibilitas geopark dengan pemasangan rambu atau penunjuk arah ke geosite,

-Mengaktifkan website, media sosial, dan media promosi dengan bahasa Indonesia dan Inggris.

-Optimalisasi kepemanduan geotourism, dan fasilitasi museum Karst Wonogiri dan Etalase Geopark Pancerdoor- Pacitan

-Meningkatkan implementasi edukasi di kawasan Gunungsewu UNESCO Global Geopark

-Tiga wilayah pengampu terdiri dari Pacitan-Wonogiri-Wonosari (Pawonsari) diminta meningkatkan dan optimalisasi kegiatan mitigasi bencana untuk isu perubahan Iklim dan bermitra dengan Instansi yang berwenang dengan mitigasi bencana.

-Menyusun Masterplan Gunungsewu UNESCO Global Geopark 2019-2023 dan dipublikasikan di website serta mengembangkan dan menginventarisasi Warisan Tak Berwujud

-Meningkatkan kerjasama dan berperan aktif mempromosikan secara internasional keberadaan Geopark Gunungsewu dalam forum Global Geoparks Network (GGN) dan Asia Pacific Geoparks Network (APGN)