Kedelai Lokal Gunungkidul Potensial untuk Dikembangkan

Sejumlah petani memanen kedelai Dena-1 di Dusun Sri Koyo, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kamis (2/5/2019). - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
27 Februari 2020 02:57 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul mengklaim kedelai lokal memiliki kualitas lebih unggul dibandikan dengan varietas kedelai impor. Hal inilah yang menjadi salah satu potensi agar komoditas lokal bisa terus dikembangkan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Handoyo mengatakan, komoditas kedelai masih sangat menjanjikan. Dalam setahun tanaman ini bisa panen tiga kali, sedangkan dari sisi permintaan bisa mencukupi kebutuhan bahan baku produksi tahu tempe yang sangat tinggi. “Ini potensi yang jadi penyemangat dalam pengembangan komoditas kedelai,” kata Bambang kepada wartawan, Rabu (26/2/2020).

Menurut dia, salah satu kelompok yang aktif mengembangkan komoditas terlihat dari usaha yang dijalankan Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari dan Kelompok Tani Sumber Rejeki Blembeman II, Desa Natah, Nglipar. Di wilayah ini termasuk sentra penghasil kedelai di Gunungkidul. “Dalah satu tahun kelompok bisa panen kedelai hingga tiga kali,” katanya.

Bambang mengungkapkan, model penanaman kedelai tidak hanya untuk satu jenis tanaman. Pasalnya, komoditas ini bisa dipadukan dengan jagung di satu lahan. “Modelnya tumpangsari,” ungkapnya. Adapun prospek dari penghasilan, di setiap hektare bisa menghasilkan uang hingga Rp31 juta untuk sekali panen. “Tinggal kalilkan saja. Setahun ada tiga kali panen, jadi pendapatannya bisa mencapai Rp90 juta lebih,” ungkap mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan ini.

Ditambahkannya, dari sisi kualitas, kedelai lokal lebih unggul dibandingkan impor. Dari sisi rasa, kedelai lokal lebih enak dan manis. “Harapannya petani tetap bersemangat untuk menanam karena komoditas kedelai sudah banyak menurun tingkat produksinya dari tahun ke tahun,” imbuhnya.

Ketua KWT Lestari, Sukiyem mengatakan, kelompoknya berkomitmen untuk menanam kedelai. Untuk saat ini sudah memasuki masa panen di musim tanam pertama. Rencananya di masa tanam kedua, luasan yang ditanam akan lebih luas mencapai 15 hektare. “Ada lahan seluas lima hektare yang ditanam kedelai jenis Grobogan. Varietas kedelai ini memiliki umur 75 hari dan sekarang sudah mulai dipanen. Selain itu, ada juga kedelai jenis anjasmoro yang ditanam petani,” katanya.

Dia menjelaskan, penamanan kedelai dimulai awal Desember 2019 lalu. Adapun pola penanaman dengan sistem tumpangsari yang memadukan tanaman kedelai dengan jagung. “Pada ubinan panen kedelai varietas Grobogan di dua lokasi panennya rata-rata 1,2 ton per hektare,” katanya.