Masyarakat Gunungkidul Punya Andil Lindungi Panglima Sudirman saat Gerilya

Rudi Winarso berbaju batik dan kacamata saat berdiskusi dengan jajaran TNI Kodim 0730/Gumungkidul. - Harian Jogja/Muhammad Nadhir Attamimi
27 Februari 2020 07:07 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDULĀ - Jejak-jejak perang gerilya tahun 1948 Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Sudirman di Kabupaten Gunungkidul masih banyak yang belum terungkap. Rudi Winarso, salah seorang peneliti sejarah mengungkapkan salah satu jejak yang tidak terlalu dikenal oleh masyarakat luas yakni peran penting masyarakat Bumi Handayani dalam melindungi sang Panglima.

Sejarah itu diungkap Rudi saat bedah buku 'Peran Gunungkidul dalam Perang Gerilya Jenderal Sudirman', hasil karyanya bersama jajaran TNI Kodim 0730/Gunungkidul dan Dinas Kebudayaan Gunungkidul di salah satu rumah makan di Wonosari pada Rabu (26/2/2020).

"Gerilyanya pak Dirman [sapaan Jenderan Sudirman] itu kan melewati Gunungkidul, sebelum itu pasukannya sudah masuk untuk menyiapkan lokasi persinggahan, keamanan dan logistik, hingga mencari informasi divisi Gatot Subroto di Solo," kata Rudi.

Saat persiapan itu, lanjut Rudi, peran penting masyarakat Gunungkidul sangat berpengaruh dalam menjaga keselamatan para pasukan persiapan dan pasukan Jenderal Sudirman saat bergerilya menuju Kediri, Jawa Timur. "Padahal kondisi masyarakat Gunungkidul yang miskin tapi tetap bersemangat untuk menyambut dan membantu Panglima Sudirman dan pasukannya," ujarnya.

Bahkan, lanjut Rudi, Jenderal Sudirman dan pasukannya cukup lama berada di Bumi Handayani ketimbang di Kediri. "Pak Dirman itu singgah disalah satu rumah warga di wilayah Genjahan, Ponjong selama lima harian," paparnya.

Melalui buku itulah, Rudi ingin mengungkap kembali peran yang cukup penting masyarakat Gunungkidul dalam gerilya Jenderal Sudirman yang belum dikenal luas oleh masyarakat. Tak hanya itu, melalui penelitian yang memakan waktu hampir lima bulan ini, dirinya ingin meluruskan lagi plang penanda rute-rute sesuai aslinya.

"Sekarang plang rute sudah banyak yang tidak terawat, sejak pemasangan terakhir tahun 1974, banyak yang sudah tidak layak. Kalau dibiarkan saja, tidak lama historis kita bisa dilupakan," ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Gunungkidul, Agus Kamtono mengapresiasi langkah baik sang penulis yang berinisiatif untuk mengulik kembali sejarah sang Panglima Besar di Gunungkidul. Menurutnya, tulisan-tulisan itu akan menyempurnakan tulisan-tulisan sejarah selama ini, salah satunya peran penting masyarakat.

"Dipandang masyarakat Gunungkidul itu loyalitas terhadap perjuangan Jenderal Sudirman dan negara, juga masyarakat karena loyalnya, bisa disimpan dengan rapat perjuangan tersebut," paparnya.

Sehingga, lanjut dia, waktu itu membuat tentara Belanda sulit mendeteksi keberadaan sang pahlawan nasional. "Maka dari itu sulit untuk menangkapnya karena masyarakat pandai menyimpan rahasia itu," paparnya.

Menanggapi hasil dari penyusunan tulisan sejarah baru itu, Dandim 0730/Gunungkidul Letkol Inf. Noppy Laksmana Armiyanto akan menindaklanjuti dengan membangun monumen baru Jenderan Sudirman di wilayah Bedoyo, Ponjong. Selain itu, dirinya mendukung sejarah baru itu bisa masuk kurikulum pendidikan.

"Nilai-nilai sejarah dalam tulisan ini sangat luar biasa, dan membanggakan masyarakat Gunungkidul ini masuk dalam kurikulum. Sehingga generasi muda saat ini bisa mengetahui berdirinya Republik Indonesia ini tak terlepas dari peran masyarakat Gunungkidul," pungkasnya.