Sudah Langka, Koro Benguk Mulai Ditanam Kembali di Kokap

Panewu Kokap, Sadikan saat menebar benih koro benguk di Dusun Pucanggading, Kalurahan Hargomulyo, Kokap, Kamis (27/2/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
28 Februari 2020 03:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Berangkat dari keprihatinan atas kian langkanya tanaman koro benguk di Kapanewon Kokap, pemerintah kapanewon setempat kini tengah menggalakkan gerakan penanaman untuk tanaman tersebut.

Gerakan itu diawali dengan penanaman ratusan benih koro benguk di Dusun Pucanggading, Kalurahan Hargomulyo, Kokap, Kamis (27/2/2020). Gerakan ini nantinya akan berlanjut ke seluruh kalurahan di Kokap, dengan luasan lahan tanam mencapai ribuan hektare.

Panewu Kokap, Sadikan mengatakan saat ini tanaman bernama latin Mucuna pruriens tersebut sudah sulit ditemukan di Kokap. Padahal, dahulu, hampir setiap perkarangan warga ditumbuhi tanaman tersebut.

Padahal tanaman ini memiliki banyak manfaat. Di samping bagus untuk kesehatan, koro benguk juga merupakan bahan baku untuk pembuatan makanan tradisional Kulonprogo, yakni tempe benguk. Sehingga dengan penanaman ini dia berharap bisa meningkatkan perekonomian masyarakat di bidang kuliner khususnya pembuatan tempe benguk.

"Ini juga jadi salah satu upaya kami untuk bersiap menyambut operasional penuh bandara Yogyakarta International Airport (YIA), kami ingin ditumbuhkannya kembali koro benguk di Kokap bisa merangsang inovasi masyarakat untuk berkreasi di bidang kuliner," ujarnya ditemui usai penanaman, Kamis.

Lurah Kalirejo, Lana berharap gerakan penanaman koro benguk ini bisa menghidupkan kembali kejayaan benguk di Kokap. Selama ini diakuinya sudah jarang ditemui tumbuhan tersebut di kapanewon ini. "Setidaknya bisa menjadi pelecut semangat warga untuk dapat berkreasi mengolah tanama tersebut menjadi bahan makanan layak jual," ujarnya.

Merujuk website resmi Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Balitkabi www.balitkabi.litbang.pertanian.go.id, Koro Benguk termasuk famili Fabaceae dan genus Mucuna yang merupakan tanaman asli India dan Afrika, kemudian menyebar ke Asia, Amerika, dan wilayah Pasifik. Tanaman ini memiliki nama berbeda tergantung daerahnya yaitu Velvet bean atau Cowitch (Inggris), Cowhage plant, Kapikacho atau Kevach (India).

Koro Benguk sendiri adalah tanaman tahunan yang merambat, dengan daun berbentuk lanceolate, dan bunga berwarna ungu atau putih. Polong Koro Benguk dilapisi bulu halus yang tipis, dalam setiap polong terdapat 4-6 biji. Warna biji terdiri dari putih, hitam, dan belang. Siklus hidup Koro Benguk berkisar antara 100-300 hari. Kemampuan adaptasi Koro Benguk cukup luas, toleran terhadap cekaman abiotik, seperti kekeringan, kemasaman maupun defisiensi unsur hara. Tanaman ini tidak dapat tumbuh baik di daerah dingin dan basah.

Tanaman ini kaya akan protein (24-31,44%), karbohidrat (42,79-64,88%), lemak (4,1-14,39%), serat (5,3-11,5%), mineral, asam amino dan abu (2,9-5,5%). Kandungan isoflavon seperti daidzin, genistein, faktor-II (6,7,4-trihydroxy isoflavone), dan glycitein (senyawa antioksidan pada kedelai) juga terdapat pada koro benguk.

Akan tetapi koro benguk mengandung senyawa anti nutrisi seperti phytates, tannins, saponin dan alkaloid yang bersifat racun bagi manusia. Senyawa-senyawa ini menjadi salah satu faktor pembatas pemanfaatan koro benguk dalam bidang pangan. Namun senyawa-senyawa toksik tersebut dapat dikurangi dengan perlakuan perendaman, perebusan, pengukusan, atau fermentasi.