Acara Harlah di Masjid Kauman Dipersoalkan, Sosiolog: NU dan Muhammadiyah Berdialoglah!

Ilustrasi masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Rabu (21/11/2018). - Galih Yoga Wicaksono.
02 Maret 2020 18:17 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Otoritas organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah di Jogja harus duduk bersama berdialog untuk merespons kasus penolakan kegiatan Harlah NU ke-94 di Masjid Gedhe Kauman belakangan ini.

Kedua pihak dinilai harus menekankan semangat inklusi dan meneladani sikap-sikap Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi perbedaan dan merespons konflik.

Seperti diketahui acara pengajian akbar peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-94 Nahdlatul Ulama (NU) di Masjid Gedhe Kauman Kota Jogja dipersoalkan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Jogja. Organisasi tersebut mengeluarkan surat berisi imbauan agar peringatan ke-94 Harlah NU tidak diadakan di Kauman.

Sosiolog dari Universitas Negeri Yogyakarta Bayu Wahyono menyatakan dialog adalah jalan terbaik untuk meredam konflik dan menghindari masalah agar tak semakin meruncing.

"Buat forum dialog yang dimediasi oleh tokoh yang bisa menjembatani keduanya," kata Bayu Wahono kepada Harianjogja.com, Senin (2/3/2020).

Dialog tersebut kata dia sekaligus menjadi pengingat bagi kedua belah pihak untuk mengedepankan nilai-nilai keislaman dalam mengatasi konflik dan perbedaan.

Misalnya nilai-nilai Islam yang inklusi dan juga meneladani sikap Nabi Muhammad saat merespons persoalan. "Nabi itu tidak pendendam. Ada masalah tidak membuat kita jadi dendam, itu yang diajarkan Nabi. Islam juga menjunjung tinggi semangat inklusi [keterbukaan]," kata dia.

Di sisi lain ia juga berharap tokoh-tokoh dari kedua belah pihak menahan diri untuk tidak melontarkan pernyataan-pernyataan yang justru memperuncing masalah dalam situasi seperti sekarang.

Menurutnya sungguh contoh yang tidak baik bagi umat Islam apabila dua ormas Islam terbesar di Indonesia itu terpecah dalam berbagai friksi.

Dikatakannya, harus diakui NU dan Muhammadiyah punyai nilai kultural yang berbeda. Namun kata dia, ada potensi irisan di antara keduanya yakni sama-sama menjadikan Islam yang inklusi yang tidak mempertajam perbedaan.

"Dua-duanya dialog, hilangkan dikhotomi NU dan Muhammadiyah," papar dia.

Seperti diketahui Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Jogja mengeluarkan surat berisi imbauan agar peringatan ke-94 Harlah NU tidak diadakan di Kauman.

Melalui surat yang dikirimkan kepada Kapolda DIY, Kapolresta Jogja, Kapolsek Gondomanan, Wali Kota Jogja, Ketua DPRD Jogja, Pimpinan Cabang NU Jogja, Takmir Masjid Gedhe Kauman, dan media massa; Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Jogja Sholahuddin Zuhri mengatakan imbauan itu didasarkan atas beberapa pertimbangan, yakni kontroversi yang pernah ditimbulkan Gus Muwafiq beberapa waktu lalu dan penolakan warga Kauman yang mayoritas Muhammadiyah atas rencana peringatan Harlah NU di wilayah tersebut.

Acara harlah itu pun akhirnya dipindah ke Universitas Nahdlatul Ulama (UNU). Ketua Panitia Acara peringatan ke-94 Harlah NU, Sofwan, menyatakan memindahkan lokasi acara dengan sejumlah pertimbangan.

Antara lain demi kebaikan bersama. "Niat kami menyelenggarakan acara itu adalah untuk kebaikan, tujuan kami adalah menjalin silaturahim kepada semua komponen umat Islam termasuk Muhammadiyah untuk bersama-sama bergandengan tangan dalam berdakwah, tidak lain dari itu . Maka kalau ada respons yang justru menjauhkan dari niat awal kami ya kami harus kami hindarkan," kata Sofwan kepada Harianjogja.com, Senin (2/3/2020).