Rata-Rata Pasien Glaukoma Datang ke Dokter Setelah Parah

Sejumlah pejabat di lingkungan RS Mata Dr YAP memberikan keterangan pers terkait Pekan Glaukoma Sedunia, Selasa (3/3/2020). - Harian Jogja/Sunartono.
04 Maret 2020 14:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Sebagian besar pasien penyakit mata glaukoma baru berobat ke rumah sakit setelah masuk kategori parah. Hal itu disebabkan karena penyakit yang dikenal dengan sebutan si pencuri penglihatan ini jarang disadari oleh penderitanya. Deteksi dini menjadi salah satu cara untuk mencegah glaukoma agar dampaknya tidak mengarah ke kebutaan.

Direktur Utama RS Mata Dr YAP Eny Tjahjani Permatasari menjelaskan prevalensi glaukoma terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Berdasarkan data International Agency fot the Prevention of Blindness (IAPB) pada 2010 penderita di dunia hanya 60,6 juta orang. Sementara pada 2020 ini secara global jumlah penderita mencapai 76 juta orang. Kasus glaukoma menjadi penyebab terbesar kedua terjadinya kebutaan. Hal ini karena banyak orang tidak menyadari terindikasi glaukoma dan baru periksa ke dokter setelah dalam kondisi parah.

"Pasien tidak merasa kalau dia terkena glaukoma, cepat atau lambat lalu parah baru datang ke sini [rumah sakit] pasien mengeluh penglihatan kabur. Pasien yang sudah lanjut ini susah untuk bisa membaik, upayanya hanya bisa dipertahankan agar tidak memburuk," ungkapnya, Selasa (3/3/2020).

Ia mengatakan deteksi dini sangat dibutuhkan untuk mencegah peningkatan glaukoma. Pihaknya melakukan pembinaan sejumlah puskesmas di DIY untuk membantu melakukan deteksi dini. Dokter dan perawat di puskesmas diberikan pembinaan khusus untuk deteksi glaukoma. Jika ditemukan pasien yang terindikasi penyakit ini kemudian dilakukan penanganan lebih lanjut tanpa menunggu parah.

"Agar puskesmas melakukan screening di lingkungan kerja masing-masing, diharapkan dari itu masyarakat lebih peduli melakukan deteksi dini glaukoma," ujarnya.

Dalam peringatan World Glaucoma Week atau pekan glaukoma sedunia, RS Mata Dr YAP menggelar puncak kegiatan pada Minggu (8/3/2020). Bentuk kegiatan dilakukan deteksi dini yang fokus pada glaukoma, seperti pemeriksaan mata, edukasi farmasi, diskusi dan deklarasi pencegahan glaukoma. Melalui kegiatan ini diharapkan untuk memberikan kesadaran masyarakat terkait pentingnya deteksi dini untuk mencegaj glaukoma.

Direktur Pelayanan dan Pendidikan RS Mata Dr YAP Erin Arsianti menambahkan secara nasional data 2017 penderita glaukoma mencapai 80.548 orang. Menurutnya penderita yang memeriksakan di RS Mata Dr YAP setiap harinya mencapai 40 orang, baik pasien lama maupun pasien baru. Faktor risiko bisa terjadi glaukoma antara lain pada pasien lebih dari 40 tahun, ada riwayat keluarga penderita glaukoma, diabetes, hipertensi, trauma mata. Jika ditemukan pasien dalam kondisi parah berat maka dilakukan operasi.

"Kalau di RS Mata Dr YAP setiap hari rata-rata 40 pasien. Masyarakat atau pasien saat ini masih mengasumsikan pandangan kabur karena katarak, dan menyangka bisa dioperasi, begitu datang [ke dokter] kaget karena bukan katarak, tetapi glaukoma. Kami mengimbau kalau sudah ada tanda-tanda sebaiknya segera memeriksakan," katanya.