Jangan Takut, Daging Ternak Gunungkidul Aman Dikonsumsi

Jajaran Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul saat mengampanyekan makan daging bebas antraks di salah satu rumah makan di Wonosari, Kamis (5/3/2020). - Harian Jogja/Muhammad Nadhir Attamimi
05 Maret 2020 18:37 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul memastikan daging ternak di Gunungkidul aman dikonsumsi. Saat ini sudah tidak ada lagi kematian ternak akibat antraks.

"Kalau dinyatakan sudah bebas antraks, saya belum berani menjamin. Karena kalau antraks itu sudah jatuh ke tanah selama 40 tahun lebih belum bisa hilang. Tapi untuk dikonsumsi sudah aman. Saya mengawali makan daging kambing dan Alhamdulillah aman," kata Kepala DPP Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, di sela-sela Kampanye Makan Daging di Wonosari, Kamis (5/3/2020).

Menurut Bambang, rentang waktu pasca vaksinasi selama 20 hari merupakan tolok ukur yang ditetapkan bersama guna memastikan tingkat keamanan konsumsi daging ternak di Bumi Handayani. "Ukuran aman bagi kami jika sudah 20 hari setelah vaksin dan tidak ada lagi ternak yang positif atau mati berarti daging aman dikonsumsi," ujarnya.

Bambang menyatakan hingga saat ini masih ada ternak yang mati secara mendadak tetapi bukan karena antraks. Sesuai data yang dimiliki DPP, sejak 26 Desember 2019 hingga saat ini ternak yang mati berjumlah 205 ekor dengan rincian 140 ekor sapi, 64 ekor kambing, dan satu ekor domba.

"Tidak ada penambahan ternak yang positif antraks selain ternak di Ngrejek Wetan, Kecamatan Ponjong dan Pucanganom, Kecamatan Rongkop. Kasus kematian lainnya karena keracunan, radang paru-paru, malnutrisi sampai trauma," ujarnya.

Saat ini DPP bersama Pemkab terus berupaya mengembalikan kepercayaan masyarakat untuk mengonsumsi daging ternak. Sebab, dampak antraks sangat dirasakan oleh peternak di Gunungkidul. "Kami berupaya memulihkan kepercayaan masyarakat untuk mengonsumsi daging, kasihan petani enggak berani menjual ternak," ujarnya.

Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) DPP Gunungkidul, Retno Widyastuti, menambahkan dengan kondisi seperti saat ini jajarannya sudah memperbolehkan ternak di Gunungkidul untuk diperjual-belikan. Kebijakan itu juga berlaku untuk ternak di daerah endemis. "Peternak di Kecamatan Patuk sudah mengirim sapi dan kambing untuk dijual ke luar daerah karena sudah lewat 20 hari vaksinasi," ujarnya.

Meski demikian, penjualan tetap melalui pantauan oleh petugas kesehatan ternak. Semua ternak yang diperjualbelikan, baik di dalam maupun keluar wilayah disertai surat kesehatan ternak dari dinas terkait. "Kalau peternak mau jual harus izin dulu, sehingga masyarakat yang beli ternak tahu kalau ternak yang diterima itu sudah sehat karena ada surat keterangan kesehatan hewan [SKKH]. Penjualan juga sudah mulai ramai," katanya.