Rumah Nyaris Tertimbun Longsor, 11 Jiwa di Girimulyo Ini Belum Tentu Direlokasi

Lokasi bekas tanah longsor di Dusun Sabrang Kidul, Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Rabu (11/3/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara\\n
13 Maret 2020 02:47 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Merespon peristiwa tanah longsor di Dusun Sabrang Kidul, Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo akan berkoordinasi dengan Fakultas Geologi UGM. Hasil kajian para akademisi itu menjadi dasar BPBD apakah akan merelokasi warga di kawasan tersebut atau melakukan perbaikan.

"Dengan kondisi seperti itu akan kita coba kerjasama dengan Fakultas Geologi UGM untuk melakukan kajian. Kira-kira tanah di sana masih bisa bergerak atau tidak. Nah untuk selanjutnya apakah relokasi atau tidak itu menunggu hasil kajian," kata Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kulonprogo Hepy Eko Nugroho, Kamis (12/3/2020).

Hepy mengatakan jika koordinasi telah terlaksana dan sudah muncul hasil kajian, pihaknya akan segera menentukan langkah selanjutnya. Ada dua opsi yang mungkin dilakukan. Pertama merelokasi tempat tinggal warga yang masuk zona merah atau kawasan paling rawan terancam longsor.

Sementara opsi kedua, yakni membenahi kondisi lahan yang longsor. "Mungkin dibuat bangket atau saluran air supaya tidak terjadi longsor susulan, tapi sekali lagi itu nunggu hasil kajian," ucapnya.

Hepy mengatakan bencana tanah longsor ini sudah dibahas di tingkat kabupaten dan telah ditetapkan status tanggap darurat. Dalam waktu dekat, pihaknya akan segera menerjunkan alat berat guna membersihkan sisa longsor.

Pihaknya juga sudah memasang Early Warning System (EWS) di lokasi tersebut. Jika EWS ini berbunyi, warga diimbau segera menjauh dan sebisa mungkin mengungsi di tempat yang lebih aman.

Diberitakan sebelumnya bukit setinggi 30 meter di Sabrang Kidul mengalami longsor. Peristiwa yang terjadi pada Jumat pekan lalu itu mengancam lima rumah warga. Keluarga yang menghuni tiga rumah di samping bukit juga terpaksa mengungsi karena khawatir terjadi longsor susulan.

Ketiga KK itu masing-masing keluarga Joko Yuwono (4 jiwa), Santoso (3 jiwa) dan Suparlan (4 jiwa). Rumah yang mereka tinggali terletak di samping bukit, hanya dipisahkan jalan setapak selebar dua meter.
Saat kejadian, ketiga rumah yang saling berdekatan itu nyaris tertimbun material tanah. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Sri Lestari, istri dari Joko Yuwono menuturkan, peristiwa itu berawal dari retakan tanah pasca hujan melanda wilayah Girimulyo sepanjang Rabu-Kamis (4-5/3/2020). Sehari berselang, tepatnya pada Jumat sekitar pukul 3.30 WIB, retakan itu kian melebar dan berujung tanah longsor.

"Pas kejadian kami dengar ada suara keras, ternyata bukit di samping rumah saya sudah longsor," kata Sri ditemui di lokasi longsor, Rabu (11/3/2020).

Pasca kejadian, Sri sekeluarga lantas mengunggsi ke salah satu rumah warga yang dinilai lebih aman. "Karena khawatir mas, takut ada longsor susulan," ujarnya.

Imbas dari peristiwa itu juga mengancam dua rumah yang dibangun di atas bukit. Rumah itu masing-masing milik Suwarman dan Tukijan. Rumah Suwarman, berada paling dekat dengan longsoran tanah, jaraknya kurang dari satu meter. Sementara rumah Tukijan berjarak sekitar lima meter.

Rumah Suwarman diketahui kosong. Pemiliknya sudah tidak menghuni rumah itu sejak beberapa tahun terakhir karena pindah ke Jakarta dan sesekali pulang saat lebaran. Sedangkan rumah Tukijan dihuni dua orang, yaitu Tukijan dan istrinya Jianti.

Jianti kepada awak media di rumahnya menuturkan, akibat peristiwa itu dirinya jadi sulit beraktivitas. Pasalnya longsoran tanah menyebabkan akses jalan yang menghubungkan lingkungan rumahnya ke jalan provinsi Tegalsari-Temon terputus.

"Kalau mau kewat harus jalan kaki mas, biasanya pake motor atau sepeda bisa, tapi kalau kondisinya kaya gitu, ya jelas gak bisa," kata perempuan berusia 57 tahun tersebut.

Jalan yang dimaksud Jianti yakni jalan setapak selebar satu setengah meter yang menghubungkan jalan provinsi menuju area permukiman di atas bukit. Ruas jalan itu ikut amblas. Meski berada di kawasan rawan longsor, Jianti memilih untuk tetap tinggal. Dia baru akan mengungsi jika cuaca sedang tak bersahabat.