Darah Pasien Corona yang Sudah Sembuh Disebut Bisa Sembuhkan Penderita

Ilustrasi virus Corona. - REUTERS/Dado Ruvic
20 Maret 2020 22:37 WIB Siti Halida Fitriati (ST19) Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA -- Passive Antibody Therapy merupakan teknik yang pernah digunakan pada  1930-an. Caranya dengan mengumpulkan darah dari seorang yang telah pulih dari infeksi.

Kemudian memisahkan bagian darah yang mengandung antibodi. Selanjutnya disuntikkan kepada orang yang menderita infeksi. Hal tersebut dilakukan untuk membantu sistem kekebalan tubuh mereka melawan atau mencegah penyakit.

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal of Clinical Investigation, para peneliti dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins, di Baltimore, dan dari Fakultas Kedokteran Albert Einstein, di New York, berpendapat bahwa teknik ini dapat berhasil digunakan untuk mengobati COVID-19.

Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa Passive Antibody Therapy dapat membantu mencegah infeksi SARS-CoV-2, bahkan pada orang yang paling beresiko dan membantu mengobati infeksi yang ada.

Para peneliti menjelaskan bahwa pendekatan tersebut dapat dilakukan, dengan mengambil sampel darah dari individu yang telah pulih dari COVID-19.

Dokter dapat mengumpulkan sampel darah dari orang yang telah pulih, menyaringnya untuk antibodi penawar virus, mengisolasi serum dari sampel tersebut, kemudian membersihkannya dari partikel dan patogen beracun.

Antibodi ini, sebagaimana yang tertulis dalam penelitian tersebut dapat bekerja dengan berbagai cara, seperti:

1. Netralisasi virus, dimana antibodi menempel pada virus kemudian membunuhnya.

2. Sitotoksisitas seluler yang bergantung pada antibodi, di mana antibodi merangsang sel kekebalan khusus untuk menargetkan virus dan menyerang membrannya, pada akhirnya menyebabkan virus hancur.

3. Fagositosis seluler yang bergantung pada antibodi, di mana antibodi merangsang sel kekebalan khusus untuk menargetkan virus dan memakannya. 

Sementara, para peneliti menjelaskan bahwa menggunakan Passive Antibody Therapy masih dalam batas kemampuan dokter, karena hanya membutuhkan alat dan teknologi yang tersedia.Arturo Casadevall, seorang ahli imunologi dan juga yang tergabung dalam penelitian mencatat bahwa "Passive Antibody Therapy lebih efektif bila digunakan untuk profilaksis [pencegahan] daripada untuk pengobatan penyakit," katanya.

Ia juga menambhakan bahwa metode ini paling efektif bila diberikan segera setelah timbulnya gejala. Dengan kata lain, dokter harus sangat efisien dalam mendiagnosis infeksi dan memberikan perawatan. .

Sumber : medicalnewstoday.com