Warga Pakem yang Meninggal Dunia Ternyata PDP di RSUD Sleman

Prosesi pemakaman lansia di TPU Bulus Kidul, Candibinangun oleh petugas RSUD Sleman, Kamis malam. - Screenshoot video
27 Maret 2020 00:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Jumiyem, 75, warga Candibinangun, Pakem yang meninggal dunia, Kamis (26/3/2020) ternyata termasuk pasien dengan pengawasan (PDP) di RSUD Sleman. 

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Djoko Hastaryo yang juga Koordinator Bidang Kesehatan Gugus Tugas Penanganan Virus Covid-19 Sleman membenarkan jika Jumiyem termasuk pasien berstatus PDP. Hanya memang, kata dia, hasil laboratorium pemeriksaan swap sampai saat ini belum keluar.

PDP tersebut, lanjut Djoko, mendapat perawatan selama enam hari di RSUD Sleman sebelum meninggal dunia pada Kamis petang. "Karena hasil pemeriksaan belum keluar, belum bisa dikatakan positif Covid-19. Meski begitu, tata laksana PDP meninggal memang sama dengan pasien Covid-19 positif meninggal," katanya, Kamis malam.

Berdasarkan data yang di-update oleh laman resmi informasi Covid-19 milik Pemda DIY, Kamis malam, jumlah PDP di Sleman mencapai 26 orang. Dari jumlah itu delapan PDP terkonfirmasi positif dengan jumlah pasien meninggal dunia sebanyak dua orang, seedangkan dua PDP lainnya yang belum diketahui hasilnya sudah meninggal dunia, seorang warga Gamping dan Pakem.

Sebelumnya diberitakan, Jumiyem, 75, warga Candibinangun, Pakem, meninggal dunia, Kamis setelah beberapa hari yang lalu ppulangdari Jakarta.

Kepala Desa Candibinangun Sismantoro membenarkan kondisi yang menimpa warganya itu. Dia menjelaskan, Jumiyem selama ini kerap pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan anaknya. Bahkan saat wabah virus Corona terjadi, nenek usia 75 tahun itu masih sempat menemui anaknya di Jakarta. 

"Ceritanya begini, mbah Jumiyem selama ini tinggal sendiri, rumahnya di dekat area persawahan. Biasa ke Jakarta bertemu dengan anaknya," katanya saat dikonfirmasi Harian Jogja.com, Kamis malam.

Sejak virus Corona terus mewabah, kata Sismantoro, Pemdes sebenarnya sudah mengeluarkan aturan agar warga perantauan yang kembali ke Candibinangun untuk di data dan diperiksa kesehatannya. "Seluruh dukuh sudah saya perintahkan untuk mendata dan meminta agar pendatang untuk memeriksakan diri," katanya.

Hasilnya, kata Sismantoro, tercatat sekitar sembilan perantau yang sudah kembali ke Candibinangun. Kesembilan orang tersebut datang dari daerah Jabodetabek, baik karena alasan terkena PHK, khawatir situasi wabah di wilayah tersebut dan alasan lainnya. "Kesembilan orang ini sudah melakukan isolasi diri selama 14 hari. Warga ikut mengawasi," katanya.

Namun dalam kasus Jumiyem, ia mengaku kecolongan. Pasalnya kepulangan Ju dari Jakarta belum sempat didata dan dilaporkan kepada Pemdes. "Saya baru mendapatkan laporan dari pak Dukuh kalau ada warganya yang sakit empat hari sepulang dari Jakarta," katanya.

Mengetahui informasi tersebut, Sismantoro langsung meminta agar Ju dibawa langsung ke RS Morangan (RSUD Sleman). Setelah sempat dirawat di rumah sakit, kondisi Ju tidak tertolong. "Untuk masalah positif Corona atau tidak saya belum mengetahui hasil laboratoriumnya, belum keluar," kata Sismantoro. 

Jenazah Ju, lanjut Sismantoro dikebumikan malam ini di TPU Bulus Kidul, Candibinangun. Pemdes, katanya akan lebih memperketat lagi peraturan pendataan para perantau yang kembali ke Candibinangun agar tidak ada lagi kasus serupa. "Untuk proses pemakaman langsung ditangani oleh petugas dari RS Morangan [RSUD Sleman], bukan warga," katanya. (Abdul Hamid Razak)