Merapi Terus Erupsi, BPPTKG: Tanda Suplai Magma Masih Berlangsung

Gunung Merapi mengalami erupsi pada Selasa (3/3/2020). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
02 April 2020 18:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Gunung Merapi kembali erupsi dengan tinggi kolom 3.000 meter pada Kamis (2/4/2020) pukul 15.10 WIB. Erupsi menandakan suplai magma di salah satu gunung api teraktif di dunia itu masih berlangsung.

Saat erupsi terjadi arah angin menuju ke timur. Hujan abu tipis juga terjadi di wilayah kabupaten Sleman.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan, mengatakan jika jika pasca erupsi Merapi yang terjadi pada Kamis (2/4/2020) pukul 15.10 wib tersebut terjadi hujan abu tipis di sejumlah wilayah di kabupaten Sleman.

"Di antaranya, di wilayah Dusun Turgo Pakembinangun, Pakem, Sleman dan wilayah Dusun Tunggul Arum, Wonokerto, Turi, Sleman, walaupun angin pada saat erupsi mengarah ke arah Timur," ujar Makwan, Kamis (2/4/2020).

Senada dengan Makwan, Ketua Komunitas Siaga Merapi (KSM) Desa Glagaharjo, Rambat Wahyudi mengatakan jika hujan abu tipis juga terjadi di tiga dusun di wilayah Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan yakni Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, dan Srunen.

"Hujan abu tipis juga terjadi di bukit Klangon dan juga terjadi di pos pemantauan KSM di lapangan STIPER yang berada di dusun Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman," tambahnya.

Berdasarkan laporan dari BPPTKG pada Selasa (2/4/2020), erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada Kamis (2/4/2020) pukul 15.10 sore tercatat di seismogram dengan amplitudo 78 mm dan durasi 345 detik. Teramati tinggi kolom erupsi setinggi 3.000 meter atau tiga kilometer dari puncak. Arah angin saat erupsi ke Timur.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida menambahkan awan panas yang meluncur dari kawah Merapi juga masih menuju ke bukaan kawah Merapi yakni ke Kali Gendol. Hal tersebut diakui Hanik merupakan karakteristik Merapi saat ini. "Fenomena tersebut merupakan karakteristik Merapi saat ini, jadi jika ada erupsi dan ada awan panas yang mengarah ke Kali Gendol," imbuhnya.

Ketika disinggung mengenai metode pemantauan yang dilakukan oleh BPPTKG, Hanik mengaku jika upaya metode yang ia dan jawatannya adalah dengan metode pengamatan seismik, deformasi, gas, dan visual.

"Metode tidak berubah masih tetap, semua fungsi juga masih berjalan dengan baik, ketika ada Erupsi kami juga langsung mengetahuinya, walaupun ini work from home (WFH) kami tetap melakukan pemantauan 24 jam terhadap Merapi," ungkapnya.

Hani juga sebelumnya mengatakan jika kejadian letusan semacam ini masih dapat terus terjadi sebagai indikasi bahwa suplai magma dari dapur magma masih berlangsung. Ancaman bahaya letusan ini berupa awan panas dan lontaran material vulkanik dengan jangkauan kurang dari 3 km berdasarkan volume kubah sebesar 291.000 meter kubik berdasarkan data drone 19 Februari 2020 lalu. "Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa di luar radius 3 km dari puncak Gunung Merapi," tutupnya.