Di Tengah Pandemi Corona, Penyebaran Antraks Tetap Diwaspadai

Sejumlah petugas memeriksa dan mengevakuasi sapi yang mati mendadak milik Jumiyo di Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, Kamis (27/6/2019). - Istimewa
15 April 2020 19:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Petugas dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Gunungkidul menyemprotkan cairan disinfektan di area Pasar Hewan Siyonoharjo di Desa Logandeng, Kecamatan Playen, Rabu (15/4/2020). Langkah ini dilakukan sebagai upaya pencegahan antraks yang sempat merebak di wilayah 2019 lalu.

Kepala Bidang Pasar Disperindag Gunungkidul, Ari Setiawan, mengatakan jajarannya tidak hanya mewaspadai penyebaran Covid-19. Potensi penyebaran antraks masih mungkin terjadi karena sejumlah kasus telah ditemukan di Gunungkidul.

Langkah antisipasi dilakukan dengan cara penyemprotan cairan disinfektan di sejumlah pasar hewan. Pada Rabu penyemprotan difokuskan di area Pasar Hewan Siyonoharjo, Logandeng. Penyemprotan selanjutnya menyasar kawasan Pasar Hewan Munggi, Desa Semanu, Kecamatan Semanu. “Penyemprotan kami lakukan secara berkala sehingga ancaman antraks terhadap ternak di pasar bisa dicegah,” katanya kepada Harian Jogja, Rabu.

Untuk penyemprotan disinfektan Disperindag mendapatkan bantuan dari Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul. “Kami menyiapkan petugas penyemprot, dan cairan disinfektan kami peroleh dari DPP,” katanya.

Disinggung mengenai upaya pencegahan virus Corona di pasar, Ari mengakui sudah menggelar sosialisasi terhadap pedagang pasar tentang protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Menurut dia, selain penyemprotan disinfektan pedagang maupun pembeli diimbau memakai masker dan sarung tangan saat berada di pasar. “Kami juga mengimbau warga selalu mencuci tangan menggunakan sabun agar terhindar dari penyebaran penyakit,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Seksi Kesehatan Veteriner DPP Gunungkidul, Retno Widiastuti, mengatakan upaya pencegahan antraks terus dilakukan secara berkala karena bakteri spora antraks bisa bertahan hingga puluhan tahun. Untuk di lokasi temuan kasus, hewan ternak milik warga divaksinasi sebanyak dua kali dalam setahun dengan rentang waktu selama 10 tahun.

Dia mencontohkan untuk vaksin antraks di Bejiharjo telah dilakukan dua kali. Rencananya vaksin diberikan lagi pada Juni 2020. Menurut dia, pemberian vaksin berdampak pada kondisi ternak sehingga penyuntikan harus diberikan kepada hewan yang sehat. Hewan yang bunting, kurus, sakit dan usianya di bawah tiga bulan tidak divaksin. “Kalau sakit dibiarkan sembuh dulu, karena jika tetap divaksin malah bisa mati,” katanya.