Perajin di Kulonprogo Bangkit dari Keterpurukan dengan Produksi APD

Yulianto menjahit hazmat di rumahnya di Dusun Taruban Kulon, Kalurahan Tuksono, Kapanewon Sentolo, Kulonprogo, Kamis (21/5/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
02 Juni 2020 08:57 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Yulianto, perajin tas asal Kulonprogo, banting setir memproduksi alat pelindung diri (APD) berupa hazmat dan face shield. Dia terpaksa menempuh cara itu agar dapur tetap ngebul di tengah ketidakpastian ekonomi imbas pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 yang melanda lebih dari dua bulan terakhir ini telah mempengaruhi kondisi perekonomian para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kulonprogo. Tak sedikit dari mereka yang menyerah dan akhirnya gulung tikar. Namun, tak sedikit pula yang masih bertahan dan tetap berjuang sampai titik darah penghabisan. Salah satunya dilakoni oleh Yulianto, 39.

Jauh sebelum virus penyebab Covid-19 itu muncul hingga menjadi pandemi seperti saat ini, Yulianto, punya usaha penjualan tas suvernir berbahan rajut, yang diproduksi di rumahnya di Dusun Taruban Kulon, Kalurahan Tuksono, Kapanewon Sentolo, Kulonprogo. Tas itu ia jual melalui pedagang suvernir yang biasa mangkal di tempat-tempat wisata seperti Malioboro, Jogja, dan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Yulianto tak menjelaskan berapa omzet usahanya itu. Namun bisa dipastikan, penghasilannya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terlebih jika memasuki musim liburan, banyak wisatawan yang berkunjung ke tempat-tempat wisata di DIY memborong tas bikinannya. 

Tahun demi tahun ia hidup dari penjualan tas suvernir. Dari usaha itu, ia bisa menghidupi sejumlah karyawan yang bekerja untuk dirinya. Baik yang bekerja secara langsung di rumah produksinya atau dibawa pulang dan dikerjakan di rumah karyawannya masing-masing.

Semua itu berjalan normal sampai masuk 2020. Sekitar Maret, bertepatan dengan masuknya wabah Covid-19 di Indonesia, usaha yang sudah ia geluti bertahun-tahun itu mulai terganggu. Penjualan tasnya menurun dari waktu ke waktu. Seturut dengan itu, penghasilannya merosot drastis. Puncaknya pada April, ia terpaksa menghentikan produksi tas, lantaran banyak tempat wisata yang tutup dan minimnya permintaan dari konsumen.

Ambyar. Begitu kiranya gambaran kondisi perekonomian Yulianto kala itu. Ia sama sekali tak punya penghasilan. Sisa produksi tas yang belum terjual hanya disimpan di lemari hingga usang. Ancaman gulung tikar menantinya di depan mata.

Ketika sedang terpuruk dan di ambang kebangkrutan, Tuhan ternyata punya rencana lain untuk Yulianto. "Nah saat itu datang teman saya yang ajak bikin hazmat sama faceshield," ujar Yulianto saat ditemui Harian Jogja di rumahnya, Kamis (21/5/2020).

Yulianto mengiyakan tawaran tersebut dan mulai belajar bagaimana caranya membuat hazmat dan faceshield. Mulanya ia cukup kesulitan dalam memproduksi dua APD itu. Dalam sehari ketika masih awal-awal produksi, ia beserta 10 karyawannya hanya mampu membikin sekitar lima buah saja. Itupun baru yang faceshield. Sementara untuk hazmat yang menggunakan bahan kain spunbond, memakan waktu pembuatan lebih dari dua hari.

"Namun setelah diajari secara intens, akhirnya kami bisa memproduksi lebih banyak lagi," ucapnya.

Usaha baru yang digeluti Yulianto itu terbilang cukup sukses. Sejak sebulan beralih produksi, Yulianto telah mendistribusikan lebih dari 3.000 hazmat dan 1.000 faceshield. Adapun harga yang dipatok untuk satu buah hazmat sebesar Rp75.000 dan faceshield Rp25.000 per buah.

Sebagian besar produksinya dijual melalui rekanan bisnis ke sejumlah konsumen di wilayah DIY. Adapula konsumen yang datang langsung untuk membeli APD di rumah produksinya.

Hasil dari penjualan APD itu, sementara ini cukup bagi Yulianto untuk bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi imbas pandemi Covid-19. Ia pun berharap, keberhasilanya bangkit dari keterpurukan bisa ditiru oleh UMKM lain di Indonesia khususnya Kulonprogo. "Jangan pernah menyerah," katanya.