Antisipasi Kuota Tidak Terpenuhi, Sekolah di Sleman Diminta Maksimalkan Sosialisasi

Ilustrasi. - Espos/M. Ferri Setiawan
04 Juni 2020 08:57 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMANĀ - Mekanisme pendaftaran peserta didik baru (PPDB) daring dirasa belum terlalu efektif bagi sebagian sekolah lantaran masih saja tidak dapat memenuhi kuota rombongan belajar siswa. Namun, sekolah tetap diminta untuk memaksimalkan sosialisasi untuk memenuhi kuota calon peserta didik.

Kepala SMPN 3 Prambanan, Nurani mengatakan dalam PPDB 2019 lalu kuota rombongan belajar di sekolahnya tidak dapat terpenuhi. Dari kuota 3x32 rombongan belajar, tahun lalu hanya ada 85 siswa yang mendaftar. Tidak terpenuhinya kuota ini ia nilai lantaran sekolahnya terletak di perbatasan Sleman-Jawa Tengah, sehingga pihaknya juga memanfaatkan jalur luring.

"Harusnya lebih efektif [jalur daring] tapi SMPN 3 Prambanan tetap pakai luring juga karena wilayah perbatasan. Sudah ada beberapa calon siswa yang datang ke sekolah," kata Nurani ketika dihubungi pada Rabu (3/6/2020).

Untuk memaksimalkan sosialisasi, Nurani terus berupaya melakukan promosi lewat media sosial, seperti grup Whatsapp paguyuban orang tua siswa, grup siswa, komite, dan sebagainya. Ia mengakui jika upaya sosialisasi cukup terhambat lantaran tidak bisa dilakukan secara langsung ke sekolah dasar dengan adanya pembatasan kegiatan tatap muka.

"Hanya lewat grup Whatsapp. Sebagian menginfokan ke Jawa Tengah, guru-guru kami juga beberapa dari Klaten, Jawa Tengah," katanya.

Dihubungi terpisah, Sekretaris Dewan Pendidikan Sleman, Ahmad Burhani meminta sekolah untuk bisa memanfaatkan peluang untuk menginformasikan ke masyarakat melalui laman-laman yang dimiliki untuk membangun komunikasi terkait pembukaan PPDB. Menurut dia, sosialisasi ini idealnya sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum masa PPDB dimulai.

"Kalau sudah terbangun komunikasi yang intens tentang budaya dan mutu sekolah kan Insyaallah akan lebih mudah dan lebih viral. Sebab sekarang ini bisa dikatakan sudah tidak ada lagi orangtua yang punya anak usia segitu [SD-SMP] yang gaptek [gagap teknologi]," ujarnya.

Menurutnya, budaya daring di dunia pendidikan ke depannya akan menjadi kultur, sehingga harus terus dilakukan untuk setiap aspek, termasuk PPDB. "Online ini kan termasuk dalam visi pengembangan pendidikan. Kita tidak boleh menutup diri dari adanya online itu. Di beberapa sekolah swasta saja sudah mengambil cara-cara pendaftaran online," terang Ahmad.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Sleman, Arif Haryono menuturkan jika pendaftaran PPDB jenjang SMP juga akan menggunakan mekanisme luring di samping metode daring untuk memfasilitasi jalur perbatasan. Jalur ini disediakan bagi siswa di kabupaten lain di perbatasan Sleman jika ada kuota dari jalur zonasi yang tersisa.

"Masih boleh dibuka seluasnya bagi mereka yang belum mendapat sekolah. Untuk jalur ini siswa hanya boleh mendaftar satu sekolah," katanya saat sosialisasi PPDB jenjang SMP minggu lalu di Kantor Dinas Pendidikan Sleman.