Investasi di Gunungkidul Serap 10.738 Orang Tenaga Kerja
Investasi di Gunungkidul semester pertama 2026 mencapai Rp487,6 miliar dan menyerap 10.738 tenaga kerja, didominasi PMDN dan PMA.
Dua orang petani di Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong, menanam padi, belum lama ini. Banyaknya sumber air membuat petani di wilayah Ponjong bisa menanam padi sebanyak tiga kali dalam setahun. /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com,GUNUNGKIDUL–Antusiasme petani untuk ikut program asuransi pertanian masih minim. Pasalnya, hingga saat ini cakupan lahan yang diasuransikan tidak sebanding dengan luasan tanam yang ada.
Data dari Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, di masa tanam kedua ini ada 8.748 hektare lahan yang ditanami padi. Namun dari jumlah ini, partisipasi terhadap asuransi pertanian hanya seluas 10 hektare.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengatakan minat petani terhadap program asuransi pertanian masih kurang. Hal ini terlihat dari luasan lahan yang diasuransikan. “Belum semua mau ikut sehingga partisipasinya masih sedikit. Untuk masa tanam kedua hanya ada kelompok tani di Kecamatan Ngawen yang mengasuransikan lahan seluas 10 hektare,” katanya, Kamis (4/6/2020).
Menurut dia, ada beberapa faktor yang membuat petani enggan ikut program asuransi pertanian, salah satunya kepemilikan lahan yang tidak terlalu luas. Meski demikian, DPP terus menyosialisasikan program ini ke petani. “Dengan sosialisasi maka petani menjadi tahu pentingnya program ini, sebab dapat membantu saat terjadi gagal panen,” katanya.
Untuk partisipasi program ini petani hanya diwajibkan membayar Rp36.000 per hektare yang berlaku satu kali masa tanam. “Apabila terjadi gagal panen, maka petani bisa mendapatkan biaya ganti rugi klaim sebesar Rp6 juta per hektare,” ungkap Raharjo.
Sesuai dengan karakteristik dan kondisi geogragfis di Gunungkidul, program asuransi pertanian paling cocok digunakan saat masa tanam pertama dan kedua karena lahan didominasi oleh sawah tadah hujan sehingga saat kemarau tidak banyak lahan yang bisa ditanami. “Hasil sosialisasi kami, di musim hujan mendatang sudah ada petani di Desa Candirejo, Kecamatan Semin yang mengasuransikan lahan seluas 20 hektare,” katanya.
Ketua Gabungan Kelompok Tani Sedyo Makmur Desa Candirejo, Kecamatan Semin, Sukaji, mengakui hingga saat ini belum ada petani di wilayahnya yang mengikuti program asuransi pertanian. Menurut dia, sosialisasi program ini sudah sering dilakukan, tetapi tetap saja belum ada petani yang berminat. “Mungkin karena petani belum terbiasa terhadap program asuransi sehingga belum berminat untuk ikut,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Investasi di Gunungkidul semester pertama 2026 mencapai Rp487,6 miliar dan menyerap 10.738 tenaga kerja, didominasi PMDN dan PMA.
Korlantas Polri dan Jasa Marga memperkuat pengawasan kendaraan ODOL melalui integrasi ETLE, RFID, dan WIM menjelang penerapan Zero ODOL awal 2027.
WMO memprediksi El Nino menguat pada Agustus-Oktober 2026 dan berpotensi memicu suhu di atas normal, kekeringan, banjir, serta kebakaran hutan.
BPS mencatat harga beras Juli 2026 naik di seluruh rantai distribusi. Beras premium di tingkat penggilingan melonjak 10,22 persen secara tahunan.
Kemarau membuat debit air sumur di Kokap, Kulonprogo menurun. Warga yang menggelar hajatan khitanan terpaksa meminta bantuan droping air.
Dewas KPK berkoordinasi memeriksa Setya Budi Dias, polisi yang bertugas di KPK dan menjadi tersangka kasus dugaan pemerasan di Pemalang.