Gunungkidul Kembangkan Tanaman Pangan Lokal

Ilustrasi Seorang petani jagung di Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, memeriksa tanaman jagung di lahan miliknya, Rabu (16/1/2019). - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
17 Juni 2020 06:37 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul berkomitmen untuk mengembangkan tanaman pangan lokal. Salah satunya adalah pengembangan jali, tanaman pangan pengganti beras yang kaya akan kandungan karbohidrat.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, tanaman jali sudah dikembangkan masyarakat Gunungkidul sejak lama. Tanaman masih satu rumpun dengan jagung sehingga kaya akan kandungan karbohidrat. “Selain itu, jali juga bisa menjadi obat anti radang, rematik serta untuk pencernaan. Untuk rasa seperti ketan, enak dan pulen saat dimasak,” katanya Selasa (16/6/2020).

Adapun tanaman jali, salah satunya dibudidayakan oleh Kelompok Wanita Tani Bina Mulya di Desa Purwodadi. Total lahan yang ditanami seluas 2.000 meter persegi. Diharapkan dari penaaman ini bisa memproduksi jali kering seberat 500 kilogram.

Untuk harga jual, sambung Raharjo, satu kilogramnya dipasarkan Rp40.000. Harga ini terhitung tinggi karena tidak lepas adanya penyusutan saat pengolahan menjadi beras jali. “Setengah ton jali kering saat diproses hanya jadi 200 kilogram beras jali. Jadi harga segitu [Rp40.000 per kg] sudah sepadan dengan biaya produksi yang dikeluarkan,” katanya.

Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Fajar Ridwan mengatakan, potensi makan lokal di Bumi Handayani sangat banyak. Salah satunya yang berasal dari umbi-umbian bisa menjadi bahan pangan yang cocok sebagai pengganti beras. Dari kandungan gizi, pangan lokal tidak kalah serta diklaim lebih sehat karena kaya serat dan rendah gula. “Jenis umbi-umbian yang dimiliki banyak seperti uwi, gembili, garut hingga ganyong,” kata Fajar.

Dia menjelaskan, tingkat ketergantungan beras di Gunungkidul masih tinggi karena dari sisi perhitungan mencapai 83 kilogram per kapita dalam setahun. Fajar menjelaskan, dengan area lahan yang semakin menyempit maka program diversifikasi pangan harus digalakan sehingga bisa menjadi solusi saat adanya ancaman krisis pangan.

“Mulai sekarang harus digalakkan program diversifkasi pangan dengan pengembangan tanaman pangan lokal sehingga ketergantungan terhadap beras bisa terus ditekan,” katanya.

Menurut dia, untuk pengembangan tanaman pangan lokal, dinas pertanian pangan sudah menggalakan program penyemaian bibit di 18 balai penyuluhan pertanian (BPP) di setiap kecamatan. Diharapkan dengan program ini, keberadaan bibit bisa terjaga sehingga nantinya bisa dibagikan kemasyarakat untuk ditanam. “Intinya jangan sampai punah sehingga benih bisa terus dibudidayakan,” ungkapnya.