Kekosongan Vaksin Polio di Sleman Berkepanjangan, Masyarakat Harus Merogoh Kantong

Ilustrasi vaksin. - Reuters
23 Juni 2020 17:57 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Problem menipisnya vaksin polio di Kabupaten Sleman masih belum menemukan solusi. Jika distribusi dari Pusat tak kunjung dilakukan, maka masyarakat harus melakukan vaksin mandiri.

Kepala Puskesmas Mlati II, Veronika Evita Setianingrum menuturkan sejak bulan Maret lalu dropping vaksin polio ke fasilitas kesehatan tingkat pertama ini sudah tersendat. Padahal seorang bayi harus mendapat vaksin ini untuk mencegah penyakit polio atau poliomyelitis yang berasal dadi poliovirus dan menyerang sistem saraf pusat.

BACA JUGA: 700 Pedagang di Pasar Bantul Bakal Jalani Rapid Test

"Kami tidak pengadaan sendiri, vaksin itu dari Kemenkes. Kebetulan dari Kemenkes itu pengadaannya agak bermasalah sehingga itu berdampak ke seluruh Indonesia. Sepertinya sejak bulan Maret sudah mulai tersendat. Sejak sebelum Covid sudah mulai terkendala," tutur Evita, Selasa (23/6/2020).

Terkendalanya dropping vaksin itu menurut Evita terutama untuk vaksin polio suntik atau inactivated polio vaccine (IPV). "Untuk polio suntik IPV memang dari Pusat. Kami nurut saja dari Pusat. Kalau sekarang agak tersendat, ya kami ikut terdampak," ujarnya.

Diakuinya banyak anak-anak di wilayah Mlati yang tertunda jadwalnya untuk memperoleh vaksin ini lantaran dropping tak kunjung ada kepastian. Ia menyarankan bagi masyarakat untuk memperoleh vaksin ini ke rumah sakit swasta karena mereka masih bisa pengadaan secara mandiri.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo mengakui di puskesmas stok vaksin polio menipis karena dropping tersendat. Ia menuturkan pemerintah pusat beberapa kali menjanjikan vaksin polio akan segera didrop, namun hingga kini belum ada kepastian. "Belum ada solusinya. Di pasaran masih agak susah sementara dropping dari pusat belum ada," ujar Joko.

Ia masih mengkaji sejumlah hal supaya bisa menyelamatkan kondisi ini. "Sementara bisa ke rumah sakit swasta, tapi memang bayar mahal. Sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000," tuturnya.