Pusat Surati BPBD DIY Minta Siap Siaga, Ada Apa dengan Merapi?

Warga Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan tetap mencari rumput di area Objek Wisata Bukit Klangon pasca erupsi Gunung Merapi yang ketiga kali, Sabtu (28/3/2020) pagi. - Ist
07 Juli 2020 20:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Peningkatan aktivitas Gunung Merapi mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyurati dua Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) baik di wilayah DIY maupun Jawa Tengah.

Surat yang ditandatangani oleh Debuti Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan tertanggal 7 Juli tersebut berisi tujuh poin. Selain meminta agar BPBD DIY maupun Jateng untuk aktif mengedukasi dan mensosialisasikan terkait kesiapsiagaan mengadapi bencana erupsi Gunung Merapi, lembaga ini juga diminta untuk melakukan pengecekan jakur evaluasi dan rambu peringatan dini bencana. Termasuk menyiapkan tempat evaluasi dan juga logistik.

Selain itu, BNPB juga meminta BPBD DIY dan Jawa Tengah untuk berkoordinasi dengan dinas dan lembaga tertentu terkait perkembangan kondisi Merapi, kesiapsiagaan kebencanaan, termasuk juga dengan Dinas Kesehatan mengenai jumlah ODP dan rumah sakit yang menangani Covid-19.

BACA JUGA: Ini Dia Jambret yang Viral di Medsos dan Telah Beraksi 14 Kali di Jogja

Selama proses kesiapsiagaan menghadapi bencana erupsi Merapi tersebut, BNPB tetap mengingatkan agar BPBD di daerah melakukan sesuai protokol kesehatan. "Jika diperlukan, BPBD menetapkan status siaga darurat, mengaktifkan rencana kontingensi (rekon), serta mendirikan Pos Komando Siaga Darurat Bencana," tulis Lilik dalam surat tersebut.

Terkait surat tersebut, Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana mengaku baru menerima surat perihal Peringatan Dini dan Langkah-Langkah Kesiapsiagaan Menghadapi Ancaman Bencana Erupsi Gunung Merapi itu. "Suratnya baru tadi, jadi saya belum menindaklajutinya," kata Biwara kepada Harianjogja.com, Selasa (7/7/2020).

Meskipun begitu, lanjut Biwara, BPBD DIY sudah mengambil sejumlah langkah dalam menghadapi ancaman bencana erupsi Merapi. Dia juga mengaku sudah berkoordinasi dengan BPPTKG terkait adanya peningkatan aktivitas Merapi itu.

"Langkah saya setelah dapat informasi dari BPPTKG berkoordinasi dengan BPBD Sleman dan masyarakat. Salah satunya agar tidak beraktifitas di radius tiga km serta di hulu Kali Gendol. Baru sebatas itu," terang dia.

Tidak hanya itu, BPBD DIY juga meminta aktivitas penambahan di Kaligendol untuk sementara waktu dihentikan. Penghentian aktivitas tersebut dilakukan untuk mengantisipasi bencana yang bisa menimpa para penambang. "Dampak yang bisa menimpa para penambang harus diantisipasi agar tidak jatuh korban," katanya.

Dia mengakui jika aktivitas Merapi akhir-akhir ini memang ada peningkatan. Meskipun begitu, dia berharap erupsi besar tidak terjadi. "Harapannya kalau erupsi masih seperti yang selama ini terjadi. Namun tetap perlu langkah-langkah mitigasi dan antisipasi, terutama terhadap warga yang berada di alur Kali Gendol dan di radius tiga kilo meter," harapnya.

Berdasarkan Laporan BPPTKG terkait Aktivitas Gunung Merapi tanggal 26 Juni—2 Juli 2020, volume kubah lava per 13 Juni 2020 sebesar 200.000 m³. Tidak ada perubahan morfologi puncak dari sektor tenggara. Kegempaan didominasi oleh gempa multifase (MP). Kubah lava saat ini dalam kondisi stabil.