Petani Kalasan Panen Cabai yang Diklaim Lebih Pedas dan Gemuk

Bupati Sleman, Sri Purnomo bersama Kepala DP3 Sleman, Heru Saptono memanen cabai rawit varietas Prima Agrihorti di Bulak Karang Kalasan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Selasa (21 - 7). Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
22 Juli 2020 04:47 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMANĀ - Kelompok Tani "Tani Rukun" di Dusun Karang Kalasan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman memanen cabai rawit varietas baru yaitu Prima Agrihorti. Varietas yang ditanam dengan pendampingan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta ini diklaim lebih gemuk dan lebih pedas.

Ketua Forum Petani Kalasan, Janu Riyanto menuturkan cabai jenis ini tak hanya diperuntukkan untuk konsumsi, melainkan fokus pada pengembangan benih. Ia bersyukur petani yang selama ini harus membeli benih cabai, kini bisa membudidaya sendiri.

"Kami adakan tasyakuran hari ini karena petani bisa menanam benih cabai. Biasanya beli, sekarang kita buat sendiri dari petani," kata Janu di sela acara panen di Bulak Karang Kalasan, Selasa (21/7/2020).

Benih cabai rawit varietas Prima Agrihorti golongan bersari bebas ini dihasilkan oleh Balai Penelitian Sayuran (Balitsa). Ini merupakan panen pertana cabai rawit varietas tersebut di lahan dengan luasan 2.000 meter itu. Janu mengklaim cabai varietas ini buahnya lebih banyak dalam satu pohon, ukuran buahnya lebih besar, dan rasanya lebih pedas.

Bila cabai biasa bisa menghasilkan rata-rata 0,8 hingga 0,9 kilogram pertanaman, maka cabai jenis ini bisa menghasilkan 18 cabai untuk satu ons. "Varietas ini kita timbang dalam satu ons ada 18 cabai. Dari satu pohon ada 310 buah cabai," katanya.

Menurutnya, pendampingan dari BPTP selama ini sangat membantu petani karena berasal dari kalangan peneliti dan penyuluh. "Kami juga tidak mengutamakan bahan kimia. Utamanya pemeliharaan sejak olah lahan, sanitasi, pemupukan, pasti cabe sehat," imbuhnya.

Kepala BPTP Yogyakarta, Soeharsono menuturkan selain di DIY, varietas Prima Agrihorti ini juga dikembangkan di 11 provinsi lain di Indonesia. Di DIY, varietas ini ditanam di Kalasan dan lahan pasir di Bugel, Panjatan.

Menurutnya, dunia produksi hortikultura ke depan jika ingin maju dan sukses maka harus didekatkan dengan benihnya. Oleh karena itu, pihaknya terus berkolaborasi dengan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman serta Balai Pengasawan dan Sertifikasi Benih (BPSB) untuk sertifikasi benih.

"Kami di BPTP ada peneliti dan penyuluh yang mendiseminasikan inovasi Balitbang, utamanya bagaimana di daerah tersedia benih unggul hortikultura khususnya cabe rawit Prima Agrihorti. Pendekatan inovasinya terpadu, terus, dukungan teknis mulai dari sumber benih dari Balitsa Lembang dan kualitasnya setingkat di atasnya," tutur Soeharsono.

Lebih lanjut, jika ingin budidaya cabai jenis ini, petani tak perlu lahan yang luas. Untuk 100 meter lahan dengan 100 tanaman yang dikelola serius, menurutnya akan menghasilkan 1,5 kilogram benih. "Harga benih lima gram saja sudah Rp15.000. Ini potensi ekonomi untuk punya nilai dampak," terangnya.