Sosialisasi Tol Dimulai, Warga Terdampak Perlu Gerak Cepat Siapkan Berkas

Suasana sosialisasi pembangunan ruas tol Jogja-Bawen pada Rabu (22 - 7) di Balai Desa Tambakrejo, Kecamatan Tempel, Sleman.Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
23 Juli 2020 03:37 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Sosialisasi pembangunan ruas tol Jogja-Bawen yang melintasi Kabupaten Sleman dimulai hari Rabu (22/7/2020) di Balai Desa Tambakrejo, Kecamatan Tempel, Sleman. Dari sosialisasi ini, warga yang terdampak pembangunan trase tol diminta segera mempersiapkan surat kepemilikan tanah dan berkas administrasi lainnya.

Untuk tahap pertama sosialisasi ini, tim pengadaan tanah tol Jogja-Bawen memulainya dengan mengumpulkan perwakilan pemilik tanah dan perangkat desa dari dua desa terdampak yaitu Desa Tambakrejo dan Desa Sumberrejo di Kecamatan Tempel. Sebanyak 50 warga dari dua desa tersebut diundang untuk mengikuti sosialisasi tatap muka dari tim pengadaan tanah tol Jogja-Bawen di Balai Desa Tambakrejo.

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) DIY, Krido Suprayitno menuturkan ada di Desa Tambakrejo ada 88 bidang tanah terdampak dengan luas perkiraan 55,093 meter persegi serta 12 bidang tanah terdampak seluas 4.858 meter persegi di Desa Sumberrejo. Namun, tak semua pemilik lahan itu bisa diundang lantaran harus menjalankan kegiatan tatap muka yang sesuai dengan protokol pencegahan Covid-19. Warga yang hadir diwajibkan memakai masker dan menempati tempat duduk yang sudah diatur jaraknya.

Oleh karena itu, sosialisasi tersebut  baru diikuti oleh perwakilan pemilik tanah dan perangkat desa yang nantinya akan meneruskan hasil sosialisasi itu ke warga terdampak yang lain melalui pertemuan mandiri di level desa maupun dusun. Menurutnya, perwakilan hari ini yang diundang cukup antusias menanyakan soal rencana pembangunan tol ini sedetail mungkin hingga menyangkut dampak sosial karena mereka punya tugas untuk 'gethok tular' ke warga lain.

"Yang diundang hari ini akan bertugas gethok tular, silakan mengadakan sosialisasi di wilayahnya masing-masing. Sesuai bimtek [bimbingan teknis] memang akan gethok tular dari perwakilan pemilik tanah dan perangkat desa," kata Krido pada Rabu.

Menurutnya, warga yang hadir hari ini sebagian besar sudah memiliki sertifikat tanah sesuai kepemilikan sendiri, karena sudah mengikuti program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL). Namun, bagi yang belum bersertifikat, ia mendorong warga untuk mempersiapkan berkas yang diperlukan untuk pendataan oleh desa guna kelanjutan proses konsultasi publik.

"Kalau masih tanah waris, atau ada salah ketik nama pada berkas kependudukan, harus diselesaikan dalam waktu tiga minggu hingga satu bulan. Sehingga bulan depan kami akan datang lagi untuk konsultasi publik, tapi proses itu [konsultasi publik] tergantung kecepatan pendataan awal tadi," jelasnya.

Selama bulan Juli, ia akan fokus melakukan sosialisasi di Kecamatan Tempel. Setelah di Desa Tambakrejo, selanjutnya ia akan dilanjutkan ke Desa Banyurejo yang memiliki 166 bidang tanah terdampak dengan perkiraan luasan 121.485 meter persegi. Selanjutnya, tim sosialisasi akan bergerak ke Kecamatan Seyegan. Mulai dari Desa Margokaton (190 bidang seluas 102.926 meter persegi), Margodadi (76 bidang seluas 55.478 meter persegi), dan Margomulyo (106 bidang seluas 26.681 meter persegi).

Terakhir, tim akan menggelar sosialisasi di Desa Tirtoadi, Mlati. Di desa ini lahan terdampak tercatat 227 bidang seluas 129.688 meter persegi. "Bulan Agustus di Tirtoadi, karena disana banyak lahan terdampak, 270 bidang menghabiskan lahan karena ada jembatan junction," imbuhnya.

Krido mengaku banyak belajar dari proses sosialisasi tol Jogja-Solo untuk sosialisasi tol Jogja-Bawen ini sehingga ia bisa mempersiapkan langkah yang lebih taktis. Ia berharap, masyarakat bisa segera menyiapkan berkas supaya kelanjutan proses penandatanganan kesepakatan bisa berlangsung lancar.

"Tapi kesepakatan untuk izin penetapan lokasi [IPL] di sini belum sampai harga ya, hanya sampai prinsip bahwa masyarakat setuju areanya dilewati trase jalan tol untuk dasar diterbitkan penetapan lokasi oleh Gubernur. Tahapnya masih panjang sekali, ini masih awal," ujarnya.

Ketua Tim Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Ruas Semarang-Jogja, Heru Budi Prasetyo mengatakan nantinya tol Jogja-Bawen akan mayoritas dibangun secara elevated di atas Selokan Mataram, meskipun ada timbunan tanah di daerah tertentu untuk memulai jalur elevated. "Lebar tolnya kira-kira 30 meteran," kata Heru.

Pihak desa juga akan proaktif dalam menyampaikan sosialisasi pembangunan tol Jogja-Bawen dengan datang ke rumah-rumah warga terdampak yang belum bisa hadir di Balai Desa Tambakrejo hari ini. Hal ini untuk meminimalisir konflik di masyarakat karena salah paham sekaligus meminta warga segera menyiapkan berkas yang diperlukan.

"Saya rasa tidak ada yang keberatan, karena pemerintah sudah sampaikan bahwa semuanya akan diproses sesuai aturan yang berlaku," kata Pj Kepala Desa Tambakrejo, Artoni Suwasti.

Ia menambahkan pemerintah desa siap meneruskan sosialisasi hari ini ke warga terdampak yang tidak hadir. "Masyarakat harus cepat menanggapi kalau-kalau ada tanah waris atau lain hal karena prosesnya beda dengan sertifikat yang dimiliki seseorang yang masih hidup," imbuhnya.

Menurutnya, ruas jalan tol yang melintasi Tambakrejo belum ditemukan rute yang melewati fasilitas umum semisal sekolah maupun rumah ibadah. "Dari 88 bidang itu melewati jalan desa, tanah kas desa, tanah dan sawah warga. Fasilitas umum hanya jalan desa," kata Artoni.