Dinas: Bantul Potensial untuk Budi Daya Udang Galah

Ilustrasi tambak udang/Harian Jogja
29 Juli 2020 14:47 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan (DPPKP) Bantul berencana mengembangkan budi daya udang galah setelah berhasil membudidayakn di wilayah Sumberagung Imogiri dan Canden Jetis.

Kepala DPPKP Bantul, Yus Warseno mengatakan selama ini hampir tidak ada pembudi daya udang galah di Bantul dengan alasan sulit dan ribet. Namun dalam enam bulan terakhir pihaknya membuktikan budi daya udang galah cukup mudah dan hasilnya menjanjikan.

DPPKP bersama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) DIY telah melakukan penelitian budi daya udang galah dengan media eceng gondok di kolam berukuran 4x5. "Ketika kami bisa membuktikan kemarin benar-benar panen udang galah di Imogiri dan Jetis, maka di Bantul cocok untuk pengembangan budi daya udang galah. Indikator lainnya kemarin ada yang bertelur juga," kata Yus Warseno, Rabu (29/7).

Yus mengakui sejauh ini penelitian baru dilakukan di wilayah Sumberagung dan Canden dengan manfaatkan aliran sungai Opak dari Bendungan Tegal. Namun bendungan tersebut, kata dia, terdapat jaringan irigasi yang luas di sejumlah wilayah sehingga diyakini wilayah yang dialiri dari sungai tersebut dapat dikembangkan budi daya udang galah.

Menurut dia, cara budi daya spesies Marcobrachium itu juga sangat mudah, hanya memanfaatkan media eceng gondok yang berfungai sebagai tempat berlindung yang nyaman bagi udang. Hal itu berbeda dengan budi daya yang selama ini dikembangkan di berbagai tempat dengan media paralon.

Selain itu eceng gondok juga ternyata berfungai sebagai penyerap kotoran amoniak, serta penghasil oksigen sekaligus makanan bagi udang. Bahkan tidak memerlukan kincir air seperti di tambak udang pada umumnya.

Dalam media eceng gondok, kata Yus, udang ternyata bisa bertelur. Namun penetasannya tetap harus melalui air payau sehingga telur udang galah perlu di bawa ke Balai Pengembangan Teknologi Perikanan di Samas. Setelah menjadi benur kembali dipindah ke dalam kolam, "Dalam 2,5 bulan sudah menjadi tokolan dan siap dipindah ke sawah," kata Yus.

Lebih lanjut alumni Sekolah Tinggi Perikanan dan Pendidikan Ahli Pembenihan Udang Balai Budi Daya Air Payau Jepara ini mengatakan kebutuhan pakan udang juga lebih ekonomis dibanding ikan lainnya. Hasilnya juga cukup besar. Saat ini udang galah di pasaran di bandrol Rp140. 000 per kilogram. Sementara benurnya Rp40 per ekor dan ketika sudah menjadi tokolah Rp200 per ekor.

Sementara itu, salah satu petani asal Gaten, Canden, Jetis mengaku sudah siap untuk mengembangkan budi daya udang galah. Saat ini ia sudah mencoba menebar 10.000 benur di kolam berukuran 11x5 miliknya di belakang rumah. Kolam tersebut juga sudah diberi eceng gondok di atasnya.

Namun pembesarannya tetap di kolam tersebut, "Saya beli bibitnya di Samas ini baru percobaan," kata Sutana. Ia mengakui petani di Bantul belum banyak karena belum mengetahui hasil budi daya udang galah. "Setahu saya di Bantul belum ada. Tapi dari Klaten, Purworejo, Sleman sudah banyak dan beli benihnya juga di Samas," ucap Sutana.