Imbas Bandara Baru, Lahan Pertanian di Kulonprogo Kian Tergerus

Petugas gabungan mengawal proses pembersihan lahan lokasi pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) Kulonprogo, Kamis (28/6 - 2018). (Antara / Andreas Fitri Atmoko)
02 Agustus 2020 19:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--DPRD Kulonprogo menyoroti tingginya alih fungsi lahan persawahan untuk kegiatan usaha di Kapanewon Nanggulan dan Girimulyo. Instansi terkait perlu lebih cermat dalam mengeluarkan izin usaha bagi kafe, restoran dan sejenisnya yang menggunakan lahan produktif sebagai lokasi usaha.

Penggerusan lahan pertanian itu merupakan imbas beridirinya bandar baru Yogyakarta International Airport (YIA).

Wakil Ketua II DPRD Kulonprogo, Lajiyo Yok Mulyono mengatakan alih fungsi lahan persawahan di Kulonprogo sisi utara seperti Nanggulan dan Girimulyo sangat tinggi karena banyak ditemui kafe dan restoran yang menggunakan lahan persawahan. "Ini perlu jadi perhatian pemerintah setempat," kata Lajiyo, Sabtu (1/7/2020).

BACA JUGA: Walhi Bongkar Kriminalisasi Aktivis Lingkungan dan HAM Berkedok Tes Swab

Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispetarung) dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (DPMPT) Kulonprogo perlu lebih cermat dalam menerbitkan izin pemanfaatan lahan produktif untuk kegiatan usaha. Jika terus dibiarkan, ia khawatir lahan sawah di dua kapanewon tersebut menyusut dan menyulitkan misi Pemkab Kulonrprogo mewujudkan ketahanan pangan mandiri.

"Jangan sampai alih fungsi sawah menyebabkan ketahanan pangan di Kulonprogo menjadi lemah. Memang saat ini, kita selalu surplus beras tapi bila alih fungsi lahan tidak terkendali, maka sektor pertanian bisa terancam," ujarnya.

Lajiyo juga meminta Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpangan) setempat segera merealisasikan percepatan cetak sawah baru untuk mengganti sawah yang sudah beralih fungsi. Menurutnya, potensi cetak sawah baru di wilayah Nanggulan dan Girimulyo cukup tinggi. Jika ditambah dengan potensi di Pengasih, dan Sentolo, maka berdasarkan perhitungannya, bisa mencapai 350 hektare.

"Hanya saja, perlu adanya kemauan dan perencanaan yang matang dari Distanpangan," ucapnya.

Terkait dengan cetak sawah baru, Kepala Distanpangan Kulonprogo, Aris Nugraha mengatakan berdasarkan Survei Investigasi Desain (SID) yang telah dilakukan, diketahui potensi cetak sawah baru di Kulonprogo mencapai 135,5 Ha. Lahan itu berada di lima kalurahan dengan rincian 25 Ha di Kalurahan Kaliagung, Kapanewon Sentolo; 104 Ha di Banyuroto, Kapanewon Nanggulan; 4 Ha di Banjaroyo, Kapanewon Kalibawang dan 2,5 Ha di Sidoharjo, Kapanewon Samigaluh.

"Tapi itu masih potensinya ya, karena kita harus melakukan cek kondisi lapangan melalui SID, nanti kita lihat bagaimana kondisi lahannya, ketersediaan air sampai ke Sumber Daya Manusia (SDM)," ujar Aris belum lama ini.

Program cetak sawah baru sejatinya sedang digencarkan Distanpangan Kulonpogo. Selain untuk meningkatkan produksi tanaman, juga sebagai upaya mengganti lahan sawah yang berkurang akibat alih fungsi lahan.

Berdasarkan data jawatan itu, laju alih fungsi lahan di Kulonprogo mengalami peningkatan semenjak dibangunnya Yogyakarta Internasional Airport (YIA). Sejak 2010 sampai 2016 atau sebelum bandara dibangun, rata-rata alih fungsi lahan hanya berkisar antara 2 ha sampai 14 ha. Tapi pada 2017, melonjak hingga 243 ha yang mayoritas di kawasan pembangunan YIA.

Adapun target cetak sawah baru secara keseluruhan seluas 350 Ha. Pada 2019, telah dilakukan cetak sawah seluas 40 hektare di Kapanewon Nanggulan, Kalibawang dan Samigaluh. Adapun untuk saat ini sudah sekitar 175 ha.

Pada tahun ini Distanpangan telah mencetak sawah baru seluas 50 hektare di Kapanewon Pengasih dan Samigaluh. Sebanyak tujuh kelompok tani di kawasan itu telah dipilih sebagai pengelola calon lahan baru tersebut.