Jual Mi Ayam Rp5.000 di Wirobrajan, Pria Ini Mengaku Untung Banyak

Gatot Prayitno, 40, warga Jetis, Kota Jogja saat menyajikan mi ayam seharga Rp5.000. - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
07 Agustus 2020 16:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Seorang penjual mi ayam bernama Gatot Prayitno, 40, warga Jetis, Kota Jogja, menjual mi ayamnya dengan harga Rp5.000 per mangkuk. Padahal, rata-rata harga mi ayam per mangkuk sekarang Rp8.000-Rp10.000.

Gatot rela menjual mi ayam dengan harga sangat murah karena prihatin dengan kondisi masyarakat yang serba kesulitan di tengah pandemi Covid-19.

BACA JUGA: Sultan Ingatkan Wisatawan di Pantai Selatan Lebih Berhati-hati

"Ini kan sedang pandemi Covid-19, apa-apa mahal, makan aja terasa mahal, maka dari itu saya coba sasar masyarakat bawah yang penghasilannya rendah, saya kasih harga Rp5.000. Ngeluarin dompet adanya uang Rp5.000 bisa makan di sini," ujar Gatot Prayitno, Jumat (7/8/2020).

Gatot mengaku sudah berjualan mie ayam selama empat tahun. Ia berjualan mi ayam pertama kali di sekitar Gor Amongrogo, lantas pindah ke Pasar Klithikan. Kemudian, ia membuka lapak barunya di Jalan Godean KM 4. Sejak dua bulan terakhir, ia membuka warung mi ayam di Jl. Bugisan, Patangpuluhan, Wirobrajan, Kota Jogja yang berbatasan langsung dengan wilayah Bantul.

BACA JUGA: Kemendes Wajibkan Desa Sediakan 4 Masker untuk Tiap Warga

"Sebelumnya saya jual mie ayam dengan harga Rp6.000, karena ada pandemi Covid-19 ini harganya saya turunkan jadi Rp5.000. Bahkan, dulu waktu saya buka di depan Pasar Klitikan harganya malah Rp4.000 tapi itu dulu empat tahun yang lalu, " terangnya.

Alih-alih menanggung rugi, Gatot justru mengaku meraup untung dari penjualan mi ayamnya dengan harga murah. Dia juga memasarkannya lewat Tiktok dan Instagram yang membuat mi ayam dengan harga murah ini viral. Per harinya, Gatot mampu menjual 300 porsi.

"Bahan-bahannya juga tidak kami kurangi, saya juga jualnya porsi normal, seperti saya menjual mi ayam dengan harga Rp6.000. Setiap hari habis. Saya buka sejak jam tujuh pagi. Seringkali ada pesepeda yang mampir ke warung mi ayam saya di Bugisan ini," ujar Gatot.

BACA JUGA: 41.000 Pekerja DIY Terdampak Corona Akan Diakomodasi Program Padat Karya

Viralnya warung mi ayam milik Gatot mendongkrak pembeli. Lahan parkir motor dan mobil sempat penuh. Kendaraan pemberli harus diparkir di halaman rumah warga. Gatot bahkan menyebut ada pembeli dari Padang, Sumatra Barat yang rela berputar-putar Jogja demi memakan mi ayam buatannya,

"Kebetulan pembeli saya dari Padang itu mau daftar sekolah. Ada juga warga dari Sleman. Waktu pandemi saya sempat libur dua bulan. Nah, baru buka lagi dua bulan ini," ujar Gatot yang memiliki empat karyawan itu.

BACA JUGA: Jaringan Masyarakat Sipil Yogyakarta Minta Rencana Proyek Tol di DIY Dihentikan

Gatot juga membanderol baksonya dengan harga Rp5.000. Meski menjual bakso dan mi ayam dengan harga relative murah, Gatot mematok harga tinggi untuk minuman. Segelas es teh dan es dia jual dengan harga Rp3.000. Umumnya, harga es teh dan es jeruk Rp2.000 satu gelas.

"Baksonya daging sapi, mi ayam bakso Rp8.000. Kalau makanan kecil seperti tahu bakso dan keripik bakso goreng saya jual dengan harga Rp1.000.”

BACA JUGA: Dapat Uang Saku US$1.000, Karyawan Facebook Bisa Kerja dari Rumah hingga Juli 2021

Gatot akan tetap menjual mi ayam dengan harga Rp5.000 meski pandemi Covid-19 berakhir karena mendatangkan lebih banyak pembeli. Dia pun untung banyak. "Omzet saya per harinya sekitar Rp2,5 juta," kata pria asal Solo ini.

Dia sudah berencana membuka warung mi ayam lagi di sekitar Jalan Bantul.  "Saya juga punya paket spesial bagi yang berulang tahun dapat makan gratis dengan menunjukkan KTP.”

Salah satu pembeli mi ayam khas Amongrogo milik Gatot, Ndaru, 35, mengatakan penasaran dengan mi ayam harga Rp5.000. Setelah menikmatinya, ia mengaku rasa dari mi ayam buatan Gatot cukup enak. "Pas buat makan siang, apalagi harganya miring sekali."