Fenomena Api Seyegan Mereda, Mutfiana Minta Hasil Riset dan CCTV
Penghuni rumah fenomena api Seyegan mendatangi BPBD Sleman untuk meminta hasil riset dan rekaman CCTV terkait penyebab munculnya api misterius.
Wakil Walikota Jogja, Heroe Poerwadi mengunjungi industri rumah tangga layang-layang motif Mataraman Kite Fighter di Kelurahan Gedongkiwo, Kota Jogja. /Harian Jogja-Catur Dwi Janati.
Harianjogja.com, JOGJA-- Selama pandemi bukan hanya tren bersepeda yang menjadi populer. Di kalangan masyarakat bermain layang-layang menjadi hobi yang digemari warga dari berbagai kalangan usia. Potensi inilah yang dilihat seorang warga RW 09 Kelurahan Gedongkiwo Kecamatan Mantrijeron, Kota Jogja bernama Aditya Pradana.
Bersama Ibu-ibu RT40/RW09, Kelurahan Gedongkiwo yang berjumlah 15 orang, Aditya memproduksi layang-layang sejak Juli lalu. "Kebetulan musim layang-layang ini stok layangan di Jogja habis dan juga pas musim panas, selain itu juga masa pandemi ini anak-anak pada butuh hiburan, jadi mereka sekarang bermain layang-layang," ujarnya.
BACA JUGA : Satpol PP Bantul Bisa Saja Bubarkan Kegiatan Layang
Bukan sekedar layangan biasa yang diproduksi Aditya bersama Kite Fighter. Mengusung motif Mataraman, Aditya memproduksi layangan khas Jogja itu hampir setiap harinya. Menurutnya, motif gaya Mataraman mengusung filosofi dan makna tersendiri. Pada gaya Mataraman motif Kalungan dan Kalau Uren misalnya, motif itu menggambarkan prajurit Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Dibanderol dengan harga relatif terjangkau dari Rp2500-8.000 layanan motif Mataraman dengan jenis dan ukuran yang sesuai bisa dibawa pulang. Bahkan tidak hanya warga Jogjakarta, peminat layangan warga Gedongkiwo ini juga berasal dari daerah lain sehingga layangan harus dikirim hingga luar kota.
Aditya menerangkan ada beberapa tahap pembuatan layangan yang bisa digarap di rumah masing-masing. Salah satunya tahap pengeleman. Dibolehkannya pengeleman digarap di rumah membuat ibu-ibu bisa lebih dekat dengan keluarganya, khususnya anak-anak.
Wakil Walikota Jogja, Heroe Poerwadi mengapresiasi produsen yang turut memberdayakan ibu-ibu warga Gedongkiwo. Menurutnya produksi layangan Mataraman ini merupakan bentuk respons warga untuk menyiasati kebutuhan hiburan masyarakat sehingga tidak bosan selama di rumah.
BACA JUGA : Pada Malam Hari, JJLS di Bantul Disulap Jadi Arena
Heroe ingin terus mengembangkan industri-industri rumah tangga. Industri rumah tangga dapat menjadi bagian dalam mengembangkan ekonomi masyarakat. "Ini perlu kita dorong dan perlu kita promosikan, karena di Jogja banyak industri kreatif yang tumbuh berkembang berbasis kegiatan bersama di masyarakat," ucapnya.
Dalam kunjungannya, Heroe juga berkesempatan melukis layang-layang dengan motif logo Gandeng-Gendong. Tak hanya itu dirinya bahkan menerbangkan layangan tersebut di area lapang Kelurahan Gedongkiwo. Heroe tak lupa berpesan kepada warga untuk bermain layang-layang di tanah lapang yang jauh dari kabel listrik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penghuni rumah fenomena api Seyegan mendatangi BPBD Sleman untuk meminta hasil riset dan rekaman CCTV terkait penyebab munculnya api misterius.
Seorang nenek di Rongkop, Gunungkidul, tewas diduga saat memadamkan api pembakaran sampah. BPBD mengingatkan bahaya kebakaran lahan
Gempa Venezuela memicu lebih dari 500 gempa susulan. Korban tewas mencapai 1.450 orang, ribuan dirawat, dan 12.000 warga mengungsi.
Ratusan petani muda Magelang mengikuti pelatihan pertanian modern Bayer SATRIA untuk meningkatkan produktivitas, teknologi, dan akses pasar.
Sensus Ekonomi 2026 di Gunungkidul melibatkan 1.039 petugas hingga 31 Agustus. BPS mengajak warga berpartisipasi memberikan data yang akurat.
Harga emas Pegadaian hari ini, Selasa 30 Juni 2026, turun untuk Antam, UBS, dan Galeri 24. Simak daftar harga lengkap seluruh ukuran.