Selain Jogja, Virus Corona Ditemukan Telah Bermutasi di Sejumlah Daerah Ini

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
01 September 2020 20:57 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pokja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) merilis hasil identifikasi Whole Genome Sequencing (WGS) dari empat isolat di DIY dan Jawa Tengah.

Tiga di antaranya ditemukan mengandung mutasi D614G.

Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM, Gunadi mengatakan hasil identifikasi ini telah dipublikasikan di GISAID. Hasil riset ini serupa dengan persentase dunia yang menunjukkan bahwa 77,5% dari total 92.090 isolat di dunia mengandung mutasi D614G dari tipe sebelumnya yaitu D614.

"Ternyata dari empat [isolat] yang kami cek, tiga isolat mengandung mutasi itu. Ini sangat sesuai [dengan persentase dunia], karena data di GISAID menunjukkan 77,5%. Kalau ternyata tiga per empat, ya berarti mutasi ini sudah mendominasi, seperti data di dunia," jelas Gunadi ketika dihubungi Harianjogja.com pada Selasa (1/9/2020).

Ia melanjutkan, Indonesia sudah melaporkan sebanyak sembilan dari 24 isolat yang dipublikasikan di GISAID mengandung mutasi D614G. Selain itu DIY-Jateng, mutasi ini juga ditemukan di Surabaya 2 isolat, Jawa Barat 2 isolat, Tangerang 1 isolat, dan Jakarta 1 isolat. Data ini masih terpusat di Pulau Jawa lantaran di luar Jawa, riset yang dilakukan belum menggunakan Whole Genome Sequencing (WGS).

Lebih lanjut, hasil riset ini juga menunjukkan bahwa mutasi D614G pada virus SARS-CoV-2 mempunyai daya infeksius 10x lebih tinggi. Kendati demikian, Gunadi menekankan bahwa tingkat infeksius itu baru ditemukan pada tingkat sel virus yang diteliti, bukan pada manusia maupun komunitas.

Sehingga, bagaimana pengaruh mutasi ini kepada komunitas masih perlu diteliti lebih lanjut.

"Infeksiusnya masih dalam level sel, belum komunitas. Sekali lagi, perlu penelitian lebih lanjut pada komunitas atau masyarakat," tegasnya.

Meski begitu, Gunadi menekankan jangan sampai masyarakat lengah dan mengabaikan mutasi virus ini. Sebab, dominasi mutasi ini di seluruh dunia menunjukkan bahwa virus ini bisa beradaptasi dengan situasi inangnya.

"Pada Februari lalu, mutasi ini minoritas, tapi ketika dideteksi enam bulan setelahnya sampai bulan Agustus ini, mutasi ini mendominasi sebesar 77,5%.

Dari situ bisa dilihat kenapa kok virus ini kemudian beradaptasi dengan manusia sebagai inangnya. Itu yang perlu kita pikirkan, bahwa yang bermutasi ini ternyata bisa bertahan hidup, artinya dia bisa menginfeksi lebih banyak orang, mungkin dia bisa escape dari sistem imun manusia," papar Gunadi.

Terlebih, menurut dia, riset ini juga tidak menyinggung apakah mutasi ini berhubungan dengan derajat keparahan penyakit, melainkan baru sebatas berhubungan dengan tingkat infeksiusnya. Sebab, tingkat keparahan SARS-CoV-2 dipengaruhi banyak faktor, seperti faktor risiko adanya komorbid. "D614G infeksius 10 kali, tapi tidak mempengaruhi derajat keparahan penyakit, karena banyak faktor yang mempengaruhi itu," tegasnya.

Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dengan virus ini. Menurutnya, sudah seharusnya semua pihak lebih disiplin untuk menerapkan protokol kesehatan, seperti cuci tangan, menggunakan masker, dan menghindari kerumunan.