Masuk Kemarau, Petani Kedundang Mulai Kesulitan Air

Seorang petani tengah menyiram lahan pertanian cabai menggunakan sumber air dari sumur pantek di lahan perawatan Kalurahan Kedundang, Kapanewon Temon, Kulonprogo, Minggu (6/9/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
06 September 2020 13:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Memasuki musim kemarau, sejumlah petani cabai di Kalurahan Kedundang, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulonprogo mulai mengaktifkan kembali sumur pantek.

Hal itu dilakukan sebagai upaya mengantisipasi puso atau gagal panen menyusul turunnya debit air dari saluran irigasi setempat yang kini sudah tidak mencukupi untuk mengairi lahan persawahan di kalurahan tersebut.

Salah satu petani, Priyo Purwanto mengatakan ia dan rekan-rekannya sesama petani sudah tidak mengandalkan suplai air dari saluran irigasi yang biasa mengairi lahan persawahan mereka dan diganti dengan sumber air dari sumur pantek. Pasalnya sejak Agustus 2020 lalu, debit air saluran irigasi mengalami penurunan yang signifikan sehingga sudah tidak bisa mencukupi kebutuhan air petani.

Di sisi lain, umur tanaman cabai yang mereka rawat kekinian sudah masuk bulan pertama. Panen cabai sendiri biasanya dilakukan pada bulan keempat sejak pertama kali tanam.

"Karena suplai air dari irigasi sekarang ini makin sedikit, kami inisiatif pakai sumur pantek, kalau gak gitu takutnya nanti gagal panen," ujarnya, Minggu (6/9/2020).

Purwanto mengatakan pengaktifan sumur pantek pada musim kemarau sebenarnya merupakan hal yang lazim dilakukan petani cabai setempat. Apalagi bagi petani yang lahan persawahannya jauh dari saluran irigasi. Namun, penggunaan sumur pantek hanya berlangsung sementara, karena lama-lama sumber airnya bakal habis jika tidak ada hujan sama sekali.

"Ya kalau sampai akhir tahun nanti tidak ada hujan, lama-lama sumber air dari sumur pantek juga bakal habis," ucapnya.

Baca Juga: Sambut Kuliah Tatap Muka, Kampus Ini Siapkan Hotel untuk Karantina Mahasiswa

Langkah serupa juga dilakukan Muhammad Mahsun. Krisis air yang terjadi mulai awal Agustus 2020 membuatnya harus kembali mengaktifkan sumur pantek. Ia membutuhkan pasokan air dari sumur tersebut untuk budidaya cabai merah kriting jenis hibrid di lahan seluas 100 meter persegi.

Tanaman itu membutuhkan suplai air secara konsisten selama empat bulan. Jika tetap mengandalkan saluran irigasi, besar kemungkinan tanamannya bakal mati karena debit air di sana telah menipis.

Namun, persoalan baru kini tengah mengintai dirinya dan petani yang sama-sama menggunakan sumur pantek di Kedundang. Sebab debit air di sumur pantek mulai menyusut seperti yang terjadi di saluran irigasi. Mahsun pun berharap, sebelum air tahun ini, kemarau bisa segera berakhir sehingga kebutuhan air petani bisa kembali tercukupi.

"Semoga aja pada akhir tahun nanti sudah turun hujan," ucapnya.

Pemerintah Kabupaten Kulonprogo sendirian telah menetapkan status siaga darurat kekeringan. Penetapan itu ditandai dengan keluarnya Surat Keputusan (SK) Bupati Kulonprogo no 281/A/2020 tentang Status Siaga Darurat Penanganan Bencana Kekeringan di Kulonprogo pada 31 Juli kemarin. Status siaga berlaku mulai 1 Agustus sampai 30 November mendatang dan dapat diperpanjang sesuai kondisi di lapangan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo, Ariadi mengatakan penetapan status siaga ini dilandasi oleh perubahan iklim dan cuaca di Kulonprogo yang mengakibatkan pergeseran musim kemarau sehingga terjadi kekeringan di sejumlah wilayah.

"Kulonprogo masuk siaga darurat kekeringan karena berdasarkan analisis Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Agustus-September merupakan puncak kemarau, dan kini sebagian wilayah juga ada penurunan debit air," kata Ariadi belum lama ini.

Baca Juga: Pendaftaran Pilkada Banyak Langgar Protokol Kesehatan, KPU dan Bawaslu Diminta Tegas

Oleh karena itu lanjutnya, dalam rangka mengantisipasi dampak kekeringan yang lebih luas, perlu dilakukan upaya penanganan yang bersifat cepat, tepat dan terpadu sesuai standar dan prosedur yang berlaku, salah satunya adalah dengan menetapkan status siaga.

Dengan penetapan status siaga, maka pembiayaan untuk penanganan bencana kekeringan bisa dilakukan menggunakan APBD 2020 dan sumber lain. "Untuk sekarang kami sudah siapkan anggaran sebesar Rp80 juta, kalau ternyata nanti masih kurang akan diambilkan dari Biaya Tak Terduga (BTT)," jelasnya.

Anggaran itu digunakan untuk kegiatan droping air bersih ke wilayah yang mengajukan bantuan. Sampai saat ini, BPBD mencatat sudah ada lima dusun di Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang dan enam dusun di Kalurahan Pendoworejo, Kapanewon Girimulyo yang telah mengajukan bantuan droping air bersih. Adapun total warga terdampak kekeringan di wilayah tersebut mencapai lebih dari 1.300 jiwa.