Pilur Gunungkidul Digelar 26 September, Pemkab Minta Logistik Tuntas H-2
Pilur serentak di 31 kalurahan Gunungkidul digelar 26 September 2026. Pemkab meminta seluruh logistik, terutama surat suara, siap H-2.
Seseorang pengujung sedang memotret di depan pintu masuk kawasan Hutan Wonosadi di Kalurahan Kampung, Ngawen. /Harian Jogja-David Kurniawan.
Harianjogja.com, NGAWEN–Masyarakat di sekitar Hutan Wonosadi di Kalurahan Beji, Ngawen, Gunungkidul terus berupaya menjaga kelestarian di kawasan hutan. Bentuk komitmen tersebut dapaat dilihat adanya kebijakan menembang atau mengambil kayu atau pepohonan dari hutan seluas sekitar 25 hektare ini.
Tokoh masyarakat di kawasan Hutan Wonosadi, Sariyo mengatakan, masyarakat masih memegang teguh kearifan lokal yang berlangsung secara turun temurun untuk menjaga kelestarian hutan. Komitmen ini selain sebagai menjaga kawasan hutan tidak rusak, juga sebagai upaya menjaga cadangan air bagi masyarakat sekitar.
BACA JUGA : Puluhan Hektare Lahan Rusak, Ratusan Monyet di Hutan
“Hutan juga sebagai penyimpan cadangan air. Jadi harus terus dilestarikan, kami bersyukur masyarakat masih memegang teguh komitmen ini,” katanya Kamis (10/9/2020).
Menurut dia, hingga sekarang kawasan Hutan Wonosadi masih tetap lestari. Warga pun tidak ada berani yang menebang atau mengambil kayu dari dalam hutan. Sariyo menuturkan, ada keperecanaay bahwa kayu dari Wonosadi tidak akan tahan lama saat dipergunakan, salah satunya membangun rumah.
“Pohon-pohonnya dibiarkan menjulang. Kalau ada yang roboh juga dibiarkan dan tidak ada yang mau mengambil, karena kepercayaan yang telah berlangsung secara turun temurun ini,” katanya.
Untuk koleksi, Sariyo mengakui banyak jenis pohon yang masuk kategori langka. Adapun usia juga sudah mencapai ratusan tahun. Ia mencotonhkan, salah satu tanaman di hutan ini adalah rotan.
BACA JUGA : Perkuat Pariwisata di Era Baru, Gunungkidul Gelar Program
Menurut dia, dari sisi manfaat rotan memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena saat disulap menjadi barang kerajinan memiliki harga yang mahal. Hanya saja, warga tidak memanfaatkan tanaman tersebut dan dibiarkan tumbuh secara liar.
“Banyak rotannya dengan panjang 30 meter lebih dibiarkan bergelantungan dan menjadi koleksi di Hutan Wonosadi,” katanya.
Hal senada diungkapkan oleh, Sunardi, salah seorang warga di Kalurahan Kampung. Menurut dia, warga terus menjaga kelestarian hutan agar bisa dinikmati oleh anak cucu mendatang.
BACA JUGA : Pelajaran Berharga dari Wonosadi
“Dengan tetap menjaga kelestarian, warga bisa merasakan manfaatnya karena berfungsi sebagai penyimpan cadangan air,” katanya.
Meski demikian, ia mengungkapkan adanya satu masalah, yakni keberadaan monyet ekor panjang yang merusak area tanaman milik warga.
“Serangan monyet ini yang harus diperhatikan karena merugikan petani. Harapannya ada solusi agar serangan tidak semakin meluas,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur serentak di 31 kalurahan Gunungkidul digelar 26 September 2026. Pemkab meminta seluruh logistik, terutama surat suara, siap H-2.
DPRD Kota Jogja mendorong pencegahan korupsi melalui penguatan sistem, tata kelola transparan, akuntabel, dan budaya integritas.
Polri menetapkan 196 tersangka dari 245 laporan karhutla hingga 28 September 2026. Kasus yang melibatkan korporasi juga terus didalami.
Bulog memastikan Beras Kita Premium dapat digunakan untuk kebutuhan MBG sesuai arahan pemerintah, sementara beras fortifikasi bukan pengganti beras premium.
Penempatan lintas daerah manajer KDKMP dilakukan untuk pemerataan SDM. Status tetap berlaku dan lokasi bisa disesuaikan dengan domisili.
Indonesia baru memiliki 66 dokter aritmia untuk sekitar 280 juta penduduk. Akses deteksi dini dan terapi gangguan irama jantung perlu diperluas.