Pria Ini Mampu Beli Sapi Berkat Layangan Bapangan

Wakirin membuat rangka layangan bapangan di rumahnya di Dusun Taruban, Kalurahan Tuksono, Kapanewon Sentolo, Senin (14/9/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
14 September 2020 12:27 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Seorang warga di Kabupaten Kulonprogo, Wakirin, 60, berhasil meraup untung jutaan rupiah dari jasa pembuatan layangan jenis bapangan. Hasil dari usaha itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Lewat usaha itu pula, ia mampu membeli sapi.

“Ya lumayan lah hasil pembuatan layangan di musim layang-layang tahun ini cukup besar sehingga saya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan beli sapi,” ujar Wakirin saat membuat layangan di rumahnya di Dusun Taruban, Kalurahan Tuksono, Kapanewon Sentolo, Senin (14/9/2020).

Membuat layangan sebenarnya bukan pekerjaan pokok Wakirin. Penghasilan utamanya adalah dari membuat kandang ayam dan berjualan burung merpati. Namun, pada tahun ini ia coba peruntungan dengan terjun menjadi perajin layangan.

BACA JUGA: Tunggu Hasil Kajian, Sleman Belum Tentukan Kebijakan Baru untuk Merespons PSBB DKI Jakarta

Niatnya itu berawal dari tingginya minat masyarakat terhadap layang-layang. Hampir di seluruh daerah di Indonesia, masyarakat sedang gandrung bermain permainan tradisional itu. Wakirin juga memang sudah terbiasa membuat layangan. Ketrampilan tersebut diperolehnya sejak masih kanak-kanak.

"Waktu kecil udah biasa buat layangan sih, jadi engggak ada masalah," ucap pria yang mengalami kelumpuhan di bagian kaki ini.

Ide itu baru terwujud pada pertengahan 2020, tepatnya saat ada salah satu tetangga yang meminta Wakirin membuatkan layangan jenis bapangan.  Layangan bapangan adalah sebutan untuk layang-layang dengan ukuran yang lebih besar dari layangan aduan.

BACA JUGA: Kota Jogja Tunda Penerimaan Kunker Instansi dari Daerah Zona Merah Covid-19

Panjang layangan jenis ini bervariasi, ada yang dua hingga empat meter. Layangan ini seperti layangan pada umumnya terbuat dari bambu, tetapi dibentuk menyerupai kapal terbang dengan dua bagian utama yaitu bagian sayap depan dan sayap belakang. Di bagian ujung di depannya dibuat segitiga lancip.

Dibantu tetangganya, Kardi, Wakirin lantas membuat pesanan layangan bapangan. Ia membuat rangka dari bambu. Sementara Kardi mengerjakan pemasangan sampul. Setelah jadi dan diberikan kepada pemesan, ternyata layangan buatan mereka disenangi. Si pemesan lantas menginformasikan hal ini kepada rekan-rekannya sesama pecinta layangan. Dan setelah itu, Wakirin kebanjiran pesanan.

BACA JUGA: OTG di Kota Jogja Melonjak, Ini Langkah Penanganan Pemkot..

Dalam sehari, Wakirin bersama rekannya bisa menyelesaikan lima layangan ukuran besat dan tiga layangan ukuran kecil. Pesanan itu tak hanya datang dari warga sekitar, tapi juga luar Kulonprogo. Bahkan ia mengaku cukup kewalahan, terlebih jika ada pemesanan yang sudah tidak sabar dengan hasil buatannya. "Ada yang sampai nungguin saya di rumah, biasanya itu yang pengen layangannya cepat jadi," ujarnya.

Layangan bapangan karya Wakirin dibanderol dengan harga yang bervariasi tergantung ukuran. Paling murah adalah layangan berukuran dua meter, yang dipatok dengan harga Rp50.000. Sedangkan untuk ukuran di atasnya berkisar Rp100.000 sampai dengan Rp150.000.

Salah satu konsumen Wakirin, Diki Firmansyah harus antre cukup lama untuk mendapatkan layangan sesuai keinginannya. Diki memesan layangan bapangan ukuran dua meter. Meski harus menunggu berhari-hari, Diki mengaku sangat puas dengan karya Wakirin, karena rapi dan bisa terbang stabil.

"Hasilnya bagus, jadi ya wajar aja kalau buatnya lama," ucap warga Kenteng, Kalurahan Demangrejo, Sentolo tersebut.