Resmi Dibuka, Ini Makna FKY Tahun Ini Menurut Sultan

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X membuka FKY 2020, Mulaniro 2, Akar Hening Ditengah Bising, di Museum Sonobudoyo, Senin (21/9 - 2020)./Ist
21 September 2020 21:57 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Di tengah pandemi covid-19, Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) kembali digelar dengan format berbeda dari biasanya. Mengusung tema Mulaniro 2, Akar Hening Ditengah Bising, FKY 2020 berlangsung di Museum Sonobudoyo selama enam hari, Senin sampai Sabtu (21-26/9/2020).

Ketua Umum FKY 2020, Paksi Raras Alit, menjelaskan dalam gelaran kali ini FKY menghadirkan 33 seniman, diantaranya Sugeng Oetomo, Bioscil, The Freak Show Man, Wok The Rock, Timoteus Anggawan Kusno dan Handiwirman Saputra. “Dengan menampilkan ragam medium seperti lukisan, patung, instalasi, fotografi, audio visual dan lainya,” uajrnya, Senin (21/9/2020).

FKY kali ini juga menggelar ayembara Ketoprak oleh Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya dengan judul ‘Sumilaking Pedhut’. Disiarkan pula DocuSeries seputar Ketoprak Tobong dengan cerita di balik pembuatan dan proses adaptif dalam alih media dari pertunjukan ketoprak ke sandiwara radio.

Karena masih dalam suasana pandemi covid-19, FKY berlangsung dengan format berbeda, yakni hanya bisa dikunjungi langsung secara terbatas dan kunjungan virtual. Durasi pameran juga lebih singkat dari biasanya, yakni pukul 10.00-18.00 WIB.

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, menuturkan dengan tema Mulanira, Akar Hening di Tengah Bising, FKY mencoba meneropong masa depan dengan berpijak pada masa kini, seraya menengok masa silam. “Masa lalu sebagai kenangan dan pembelajaran, masa depan adalah harapan dan misteri,” ujarnya.

Ditengah kesibukan yang membisingkan ini kata dia, perlu hening sejenak akan menajamkan kepekaan mata batin kita, karena menurutnya kebudayaan tidak hanya berdialog tentang nilai-nilai dan artefak saja, tetapi menjangkau seluruh totalitas kehidupan.

“Saya juga memberikan salut karena banyak generasi muda yang peduli budaya sendiri dan sadar sejarah. Mereka memaknai Yogyakarta melalui karya cipta yang mengejutkan sekaligus mengagetkan. Seakan bertanya kepada generasi tua: Apakah kita sudah mencapai kemandirian berbudaya, sebagaimana di CanangkanTri Sakti Jiwa Proklamasi?“ katanya.