Pengembangan Pasar di Jogja Gunakan Sistem Digital, Sejalan dengan Protokol Kesehatan

Kerja sama Disperindag Kota Jogja dengan Go-Bills dalam rangka e-retribusi. - Ist/dok Disperindag Kota Jogja
22 September 2020 11:57 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pengembangan sarana dan prasarana pasar rakyat terus dilakukan oleh Disperindag Kota Jogja. Tidak hanya fisik, pengembangan sistem digital pun terus dirintis. Beberapa pengembangan pun telah mendukung penerapan protokol Covid-19.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja, Yunianto Dwi Sutono menjelaskan salah satu pengembangan fisik yang dilakukan diantaranya pembangunan bilik disinfektan, pembuatan alur pengunjung, hingga penerapan kode QR.

Baca juga: Pelanggar Protokol Kesehatan Makin Banyak di Tengah Meningkatnya Kasus Covid-19

Jauh sebelum adanya kode QR, untuk mencatat lalu lalang aktivitas pasar, Disperindag Kota Jogja telah memulai penggunaan kode QR sejak 2018. Yunianto menerangkan bahwa saat itu kode QR difungsikan untuk mengganti pencatatan retribusi yang sebelumnya dicatat manual. "Jadi petugas masing-masing pasar tinggal scan kode QR, nanti siapa yang bayar, bayarnya berapa langsing tercatat di sistem yang terhubung dengan Disperindag langsung," jelas Yunianto.

Penerapan kode QR sejak dua tahun lalu ini tentu memiliki berbagai manfaat. Yunianto menjelaskan melalui sistem kode QR, akuntabilitas dan validitas data terjamin. Retribusi yang masuk dapat dipantau secara real time. Selain itu cara ini mampu meminimalisir kesalahan pencatatan maupun bila sewaktu-waktu dokumen hilang atau rusak. "Semua tercatat secara digital dan datanya langsung terhubung ke Disperindag," ujarnya.

Baca juga: Penegakan Hukum Terkait Protokol Kesehatan Akan Dievaluasi

Awalnya pembayaran tetap dilakukan secara cash, hanya saja pencatatan sudah tersistem secara digital. Namun Yunianto menjelaskan metode fintech pun kemudian dikembangkan bekerja sama dengan beberapa perusahaan. Kini semua pembayaran pun dilakukan cashless, dimana di era sangat ini sangat membantu dalam menekan penyebaran Covid-19 dengan meminimalisir kontak.

Dari segi penjualan beberapa pasar di Kota Jogja pun telah digenjot Disperindag Kota Jogja agar bisa dijual secara daring. Kabid Penaataan Pengembangan dan Pendapatan Pasar Disperindag Kota Jogja, Gunawan Nugroho mengatakan bahwa Disperindag Kota Jogja telah bekerja sama dengan beberapa market place dan penyedia jasa pengiriman sehingga produk pedagang bisa dibeli secara daring.

"Awalnya perusahaan kesusahan, begitu bekerja sama dengan Disperindag Kota Jogja, kegiatan jual beli melalui daring meningkat," jelas Gunawan.

Diterangkan Gunawan, selama pandemi berbagai komoditas khususnya kebutuhan rumah tangga alami peningkatan daya beli secara daring. Bahkan beberapa komoditas spesifik seperti bunga tabur menjadi salah satu barang paling banyak dibeli secara daring. "Seperti bunga tabur itu kan tidak dijual di swalayan, hanya ada di pasar dan kini bisa dibeli secara daring merupakan satu hal yang luar biasa," jelasnya.

Gunawan terus mendongkrak semangat para pedagang untuk ambil bagian dalam penjualan secara daring. Dia membebaskan pedagang untuk memakai market place apa pun, asal mampu meningkatkan penjualan pedagang.

"Berdasarkan traffic penjualan bisa di lihat pasar atau pedagang mana yang masih pasif berjualan secara online maupun yang intensitasnya tinggi, nanti kita kelompokkan dan kita beri pelatihan untuk meningkatkan sumber dayanya," jelas Gunawan.

Disperindag Kota Jogja pun siap membantu beberapa pedagang yang kurang melek digital melalui workshop maupun strategi terpusat pada paguyuban."Jadi misal yang sepuh tidak bisa menggunakan ponsel, diakomodiasi oleh paguyuban, nanti pesanan akan masuk di paguyuban, paguyuban menghubungkan penjual dan pembeli," terangnya. Beberapa pedagang pun didampingi untuk rebranding produk, dari kemasannya hingga dokumentasi produk dengan fotografer handal.

Keseriusan Disperindag Kota Jogja dalam membenahi dan mengembangkan sistem daring ini sejalan dengan protokol kesehatan. Dimana, kontak fisik makin diminimalisir dan mampu mengurangi kerumunan. Di samping itu adanya beberapa program tadi tetap sejalan dengan misi mensejahterakan pedagang.

Tidak hanya pengembangan secara sistem, secara fisik pasar rakyat terus alami pembenahan. Salah satunya Pasar Beringharjo. Bilik disinfektan, alur pengunjung, hingga kode QR telah diterapkan di Pasar Beringharjo. Tak pelak Pasar Beringharjo memperoleh predikat sebagai Pasar Siaga Covid-19 di DIY.

Lurah Pasar Beringharjo Timur, Udiyitno menjelaskan predikat yang diberikan Pemerintah Provinsi DIY kepada Pasar Beringharjo tak lain karena penegakan protokol Covid-19 yang dijalankan dengan ketat. Dia menerangkan bahwa setiap hari petugas selalu keliling mengimbau baik pedagang maupun pembeli untuk melaksanakan protokol. "Kalau tidak pakai masker diingatkan, bahkan kalau ada satu pedagang yang menumpuk banyak pembeli kami urai terlebih dahulu agar tidak menimbulkan kerumunan," terangnya.

"Intinya kami seusai instruksi presiden, 3M, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, itu wajib diterapkan selama di pasar," jelas Udiyitno.

Meski ketat, Udiyitno mengatasi para pedagang pun kooperatif bila diingatkan. Selain itu Udiyitno menambahkan jika banyak pedagang secara mandiri melakukan penyemprotan disinfektan di sekitar lapaknya maupun secara suka rela memindahkan kotak dagangannya yang berapa di depan los agar memperluas lebar jalan. Sehingga dapat mengurangi kerumunan.

Yunianto menerangkan jika saat ini pihaknya tengah merancang semacam id card bagi pekerja di pasar. Nantinya baik pedagang, buruh gendong, tukang parkir, pemasok barang dari luar kota, akan memiliki semacam id card. Bagi mereka yang memasuki pasar, wajib menempelkan id card ke mesin pendata. Sehingga dapat diketahui siapa saja yang masuk pasar pada waktu tertentu. "Kalau kartu kan mudah dibawa, semua bisa pakai, kalau hp kan enggak semuanya bisa mengoperasikan hp atau punya hp," terangnya.

Lebih lanjut, penggunaan uang digital atau fintech menurut Yunianto suatu keniscayaan yang tidak bisa dibendung. "Dan itu [penggunaan uang digital] harus kita sosialisasikan kepada para pedagang dan pembeli," ujarnya. Yunianto menambahkan bahwa berbagai pengembangan sistem digital sekali dengan protokol kesehatan yang berlaku saat ini. "Jadi sistem digital mengurangi kerumunan dan kontak fisik," tukasnya.