Sebagian Pasien OTG di Sleman Tak Dikarantina Pemerintah

Foto Ilustrasi: Personel Satgas Mobile COVID-19 memeriksa kondisi pasien diduga terjangkit virus Corona (COVID-19) di ruang isolasi Rumah Sakit Suradadi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Rabu (11/3/2020). - Antarafoto/Oky Lukmansyah
23 September 2020 21:17 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Tidak semua pasien yang berstatus OTG Positif, termasuk karyawan dan tenaga kesehatan (Karkes), menjalani karantina di Asrama Haji. Padahal Bupati Sleman Sri Purnomo berharap agar seluruh OTG positif atau asimtomatik menjalani masa karantina di Asrama Haji.

Berdasarkan data Laporan Penghuni Faskes Darurat Covid 19 Asrama Haji Sleman pada Minggu (20/9/2020) misalnya dari 43 kasus baru Covid-19, hanya 18 OTG positif yang masuk shelter pada Senin (21/9/2020). Begitu juga dengan penambahan OTG positif pada Senin (21/9/2020) sebanyak 38 kasus hanya dua pasien baru yang masuk pukul 14.00 WIB pada Selasa (22/9/2020).

Sementara dari penambahan 33 kasus pada Selasa (22/9/2020) hanya sembilan orang yang masuk ke shelter Asrama Haji. Kapasitas kamar di shelter ini hanya 138 kamar. "Saat ini jumlah penghuni shelter sebanyak 101 orang dengan status OTG positif. Masih tersisa 34 kamar lagi," kata Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Sleman Makwan kepada Harianjogja.com, Rabu (23/9/2020).

Meskipun dalam empat hari terakhir lonjakan kasus baru terjadi di wilayah Sleman, namun kapasitas shelter di Asrama Haji masih mencukupi untuk menerima pasien OTG positif. Berbeda kasus jika seluruh pasien OTG positif melakukan perawatan dan isolasi mandiri ke shelter. "Kondisi ini terjadi karena tidak semua OTG positif masuk ke shelter. Yang penambahan (33 kasus) kemarin saja yang masuk hanya sembilan orang," katanya.

Makwan tidak mengetahui alasan dari OTG positif yang tidak masuk ke shelter. Dia hanya berharap agar mereka yang tidak menjalani karantina di shelter bisa menjalani karantina sesuai standar prosedur dan tidak memapari orang di sekitarnya. "Kalau berdasarkan data pasien OTG positif yang masuk memang tidak sesuai dengan data penambahan jumlah kasus baru," katanya.

Sesuai prosedur, katanya, pasien OTG positif (asimtomatik) yang masuk ke shelter dirujuk oleh Puskemas. Pihak Puskesmas menjemput kemudian mengantar pasien ke shelter. "Pasien menjalani karantina selama 10 hari setelah hasil swab negatif keluar melanjutkan karantina mandiri di rumah selama empat hari," katanya.

Di shelter tersebut terdapat dua dokter dan 13 perawat yang bertugas untuk memantau kondisi pasien. Jika kondisi pasien tidak membaik maka akan dirujuk ke rumah sakit rujukan Covid-19. Umumnya yang dirujuk karena memiliki komorbid. "Kalau fasilitas di shelter tidak memadai dan selengkap di rumah sakit rujukan," ujarnya.

Terkait banyak OTG positif terutama dari kalangan Karkes tidak menjalani, Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo mengakuinya. Dijelaskan Joko, selain di Asrama Haji nakes positif sebetulnya boleh melakukan isolasi mandiri. "Dengan asumsi mereka paham ketentuan tentang isolasi mandiri," katanya.

Meski begitu, lanjut Joko, mereka yang melakukan isolasi mandiri tetap di bawah pengawasan Puskesmas sesuai domisili. Ada data by name by address untuk pengawasan. "Kenyataannya malah tidak banyak pasien (asimtomatik) yang melakukan isolasi mandiri. Mereka lebih memilih menjalani isolasi di RS masing-masing atau RS lainnya," kata Joko.

Dikatakan Joko, Dinkes pernah melakukan "sweeping" kepada pasien asimtomatik yang melakukan isolasi mandiri. "Yang betul-betul memenuhi syarat Isolasi mandiri kami ijinkan dengan surat pernyataan. Tetapi bagi yang rumahnya tidak memenuhi syarat kami jemput dan diantar ke Asrama Haji dengan protokol kesehatan," kata Joko.