Kanwil DJPb DIY Latih Pembatik Olah Limbah dan Gunakan Pewarna Alami

Kepala Kanwil DJPb DIY, Sahat Panggabean, memberikan sambutan dalam pelatihan membatik pewarna alami dan pengolahan limbah di Kelompok Usaha Bersama (Kube) Rumekar Batik di Dusun Pulo, Kalurahan Gulurejo, Kapanewon Lendah, Rabu (30/9/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
30 September 2020 21:27 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) DIY menggelar pelatihan bertajuk Membatik Pewarna Alami dan Pengolahan Limbah, di Kelompok Usaha Bersama (Kube) Rumekar Batik, Dusun Pulo, Kalurahan Gulurejo, Kapanewon Lendah, Rabu (30/9/2020).

Kegiatan ini diikuti oleh puluhan pembatik di Gulurejo. Mereka diajarkan tata cara membatik menggunakan pewarna alami dan mengelola limbah batik agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Hadir dalam kegiatan ini Kepala Dinsos P3A Kulonprogo, Yohannes Irianta, dan Asisten Daerah (Asda II) Bidang Perekonomian dan Pembangunan dan Sumber Daya Alam, Kulonprogo, Bambang Tri Budi Harsono.

Kepala Kanwil DJPb DIY, Sahat Panggabean, mengatakan kegiatan yang digelar bersama Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta dan Pemkab Kulonprogo ini merupakan salah satu upaya DJPb DIY untuk memberdayakan masyarakat, khususnya yang tergabung dalam Kube di Kulonprogo. "Kegiatan ini diharapkan bisa meningkatkan kompetensi dan produktivitas anggota Kube, dan ke depan bisa mengembangkan usaha menjadi lebih mandiri dan berkelanjutan," kata Sahat.

Sahat mengatakan dengan terciptanya kemandirian usaha, maka dapat membantu upaya pemerintah menanggulangi kemiskinan dan percepatan program pemulihan ekonomi nasional (PEN) di Kulonprogo yang terpuruk sebagai imbas pandemi Covid-19. "Selain memberikan ilmu baru, kami juga memberikan semangat kepada anggota Kube untuk kembali memproduksi batik. Kegiatan ini sifatnya berkelanjutan," ucap Sahat.

Pemberdayaan UMKM, menurut Sahat, merupakan gerakan bersama antar berbagai pihak yaitu pemerintah sebagai regulator program untuk memberdayakan dan menciptakan iklim usaha yang kondusif. "Ada juga peran lembaga keuangan dalam pemberian pinjaman dan fasilitator yang bertugas mendampingi UMKM," ucapnya.

Asda II, Bambang Tri Budi Harsono berterima kasih atas kepedulian Kanwil DJPb DIY terhadap UMKM di Kulonprogo. Diharapkan kegiatan ini bisa digelar berkesinambungan, sehingga potensi dari berbagai sektor ekonomi di Kulonprogo bisa berkembang dengan baik.

Bambang menjelaskan industri batik di Kulonprogo saat ini menunjukkan progres yang baik. Hal itu terlihat dari peningkatan jumlah SDM batik, produksi dan perputaran uang di masyarakat. Pada 2012 jumlah kelompok perajin batik hanya ada 12 kelompok. Pada 2019 jumlahnya melonjak menjadi 42 kelompok, yang tersebar di Kapanewon Lendah, Sentolo, Samigaluh, Kalibawang dan Temon. "Untuk tenaga kerja dari 185 orang melonjak menjadi 482. Artinya, batik mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat," ujarnya.

Lurah Gulurejo, Sarjidi, mengatakan industri batik mampu menghidupi masyarakat Gulurejo, terutama bagi kaum perempuan. Jika sebelumnya banyak dari mereka yang tidak punya penghasilan, kini bisa memperoleh Rp50.000 per hari. "Saat ini masih ada persoalan tentang limbah batik, sehingga kami berharap dengan pelatihan ini pembatik sadar menggunakan pewarnaan alami serta bisa mengolah limbah," ujarnya.

Selain memberi pelatihan, Kanwil DJPb DIY juga memfasilitasi permodalan untuk Kube dengan menggandeng Bank BPD Cabang Wates melalui pembiayaan KUR Super Mikro yang memberikan pembiayaan sampai dengan Rp10 juta. DJPb DIY sebelumnya sudah menggelar pelatihan serupa dengan menyasar anggota Kube di Kulonprogo, salah satunya pelatihan budi daya ayam petelur di Kapanewon Nanggulan.