3 Ponpes di Sleman Jadi Klaster Covid-19, Dinkes Perketat Rekomendasi Operasional

Foto ilustrasi. - Antara Foto
01 Oktober 2020 03:17 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mencatat hingga Rabu (30/9/2020) terdapat tiga pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Sleman yang menjadi lokasi penemuan kasus positif Covid-19. Saat ini total kasus dari ketiga ponpes ini berjumlah 48 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo menuturkan ada kabupaten ini memiliki 145 ponpes. Sementara ini, yang sudah mengajukan permohonan rekomendasi operasional sebanyak 60 ponpes. Dari jumlah itu, ada 25 ponpes yang telah mendapatkan rekomendasi.

Baca juga: Jadi Shelter Cadangan, Rusunawa Gemawang Diaktifkan Besok

"Saat asesmen [permohonan rekomendasi] juga sudah diupayakan tertib protokol. Ponpes yang sudah buka ini sebenarnya sudah tertib, karena mereka sediakan bangunan untuk karantina mandiri. Tetapi ketika ada penularan, kami akan kaji lagi," kata Joko kepada wartawan pada Rabu (30/9/2020).

Menurutnya, berkaitan dengan hal ini, pihaknya akan memperketat proses penerbitan rekomendasi bagi operasional ponpes selama masa adaptasi kebiasaan baru ini. Sementara itu, bagi ponpes yang terdapat temuan kasus positif, Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sleman menerapkan penghentian kegiatan sementara untuk dilakukan disinfeksi.

Baca juga: Warung Mi Terkenal di Kotabaru Tutup, Karyawan Dapur Positif Covid-19

Joko menyebut kasus ditemukan di dua ponpes di Ngaglik dan satu di Prambanan. Sejauh ini, pihaknya sudah melakukan tracing terhadap 222 penghuni ponpes di Ngaglik, serta 59 penghuni ponpes di Prambanan. Saat ini, tracing masih terus dilakukan.

"Kasus positif di Ngaglik saat ini isolasi mandiri di ponpes karena mereka punya fasilitas memadai. Kalau yang dari Prambanan, dirawat di Asrama Haji Sleman karena OTG," ujarnya.

Soal penularan kasus di ponpes di Ngaglik, Joko menyebut mayoritas pasien positif menunjukkan gejala ringan. Umumnya dari mereka tidak bisa menggunakan indera pengecap dan perasa.

Adanya transmisi di sejumlah ponpes ini membuat Dinkes Sleman akan mengkaji kebijakan pembelajaran tatap muka di Sleman. "Kita juga sudah undang Kemenag dan bidang Kesra untuk ingatkan kembali soal protokol kesehatan. Besok kita ada video conference dengan pengurus ponpes yang sudah buka," ucap Joko.

Sementara itu, Asekda Bidang Administrasi Umum Sleman, Arif Haryono mengatakan pembukaan kelas tatap muka untuk ponpes menjadi tantangan tersendiri karena sektor pendidikan ini beberapa mengharuskan adanya tinggal di asrama. Menurutnya, pembatasan santri ketika di asrama perlu dilakukan, misalnya di setiap kamar santri dikurangi kapasitasnya. "Kuncinya adalah penegakan protokol," ujar Arif.